Tinjauan Risiko RUU Cipta Kerja terhadap Hutan Alam dan Pencapaian Komitmen Iklim Indonesia

Madani Berkelanjutan memprediksi bahwa jika pasal-pasal yang melemahkan aturan perlindungan hutan alam dan lingkungan hidup dalam RUU Cipta Kerja diterapkan, risiko hilangnya hutan alam akan meningkat sehingga berpotensi mengarah pada beberapa kondisi berikut:


1. Lima (5) provinsi di Indonesia terancam akan kehilangan seluruh hutan alamnya akibat laju deforestasi, yaitu Riau pada tahun 2032, Jambi dan Sumatera Selatan pada tahun 2038, Bangka Belitung pada tahun 2054, dan Jawa Tengah pada tahun 2056.


2. Hutan alam yang seharusnya dapat dilindungi oleh kebijakan penghentian pemberian izin baru yang diperkuat tidak akan bisa terselamatkan karena akan terlanjur hilang akibat deforestasi. Empat (4) provinsi yang terancam akan kehilangan hutan alam di luar PIPPIB dengan luasan terbesar adalah Kalimantan Tengah (3,5 juta hektare), Kalimantan Barat (1 juta hektare), Aceh (342 ribu hektare), dan Sumatera Barat (254 ribu hektare).


3. Pencapaian komitmen iklim (target NDC) di sektor kehutanan, khususnya dari pengurangan deforestasi, terancam akan gagal total karena ambang batas deforestasi pada periode 2020-2030 sebesar 3,25 juta hektare akan terlampaui pada tahun 2025 akibat laju deforestasi.


BACA JUGA: Madani Political Updates: ISPO, SVLK, Ombinus Law, dan RUU Masyarakat Adat


4. Kesempatan untuk menyelamatkan hutan alam seluas 3,4 juta hektare yang saat ini terlanjur berada dalam izin perkebunan sawit di dalam momentum kebijakan moratorium sawit akan hilang, terutama untuk memenuhi target konsumsi biodiesel dalam negeri pada 2024, tetapi juga untuk memenuhi pertumbuhan konsumsi pangan, industri, dan ekspor CPO. Provinsi yang terancam akan kehilangan hutan alam yang berada di dalam izin sawit paling banyak adalah Papua (1,3 juta hektare) dan Kalimantan Timur (528 ribu hektare).


5. Berdasarkan kajian terhadap 45 DAS terluas di Papua Barat yang berada di 8 kabupaten/kota, persentase hutan alam di luar PIPPIB dan PIAPS yang belum dibebani izin/konsesi hanya tersisa 2,5% atau 85.473,66 hektare dari total hutan alam yang tersisa. Jika tutupan hutan di dalam PIPPIB dan PIAPS tidak berhasil dipertahankan, maka persentase hutan alam di DAS terluas di Papua Barat diproyeksikan akan menyusut menjadi hanya 0%-20% akibat laju deforestasi. Hal ini akan mengganggu fungsi hidrologi di Papua Barat. Namun, jika tutupan hutan alam di dalam PIPPIB dan PIAPS dapat dipertahankan 100%, tutupan hutan di 32 dari 45 DAS terluas di Papua Barat akan dapat dipertahankan di atas 50% hingga tahun 2058 meski  mengalami penyusutan akibat laju deforestasi.


Untuk mengetahui lebih mendalam terkait dengan analisis ini, pengunjung dapat mengunduh materi yang tersedia di tautan di bawah ini. Semoga Bermanfaat.



Silahkan download file yang berkaitan dibawah ini:

 Madani Insight_April 2020 (ENG)  Madani Insight April 2020_3.pdf