Asap Karhutla Memperburuk Pandemi

BMKG memprediksi bahwa kemarau berlangsung pada Juni ini akan mencapai puncaknya pada Agustus nanti. Selama empat bulan ke depan, pengaruh Elnino juga akan terjadi, tetapi berada di bawah kategori moderat


Data Dirjen PPI KLHK, pantauan Terra Aqua Lappan terjadi 247 hotspot, dengan dua titik api terkonfirmasi 80% (Januari – Juli 2020). Sedangkan, berdasarkan pemantauan satelit SNPP terdapat 426 titik api dengan dua titik api terkonfirmasi 80%. Temuan titik api di antaranya terdapat di Desa Modong, Kecamatan Sungai Rotan Muara Enim dan sudah dipadamkan oleh petugas.


BACA JUGA: Bagaimana Rencana Cetak Sawah di Lahan Gambut?


Tentu, karhutla tahun ini berbeda disbanding dengan tahun sebelumnya, hal tersebut lantaran ancaman virus corona atau Covid-19.  Terkait dengan karhutla, Sumatera Selatan termasuk satu dari tujuh provinsi yang menjadi perhatian pemerintah pusat atas ancaman karhutla. Sumsel sendiri memiliki luasan gambut yang besar, sehingga saat terbakar akan memproduksi karbon dalam jumlah besar. Selain itu, asap dari Sumsel juga berpotensi menjadi asap lintas batas.


Berdasarkan kajian karbon yang dilepas saat terjadinya karhutladi Indonesia, kebakaran di lahan mineral 11 mt karbon dioksida (Co2) sedangkan pada lahan gambut melepaskan hingga 171 mt C02 atau 16 kali lebih banyak dari lahan mineral. Kebakaran di lahan gambut akan sangat merusak kualitas lingkungan dan suhu bumi.


BACA JUGA: Strategi Penanganan Karhutla Saat Pandemi Covid-19


Karhutla telah melepas karbon dalam jumlah besar ke udara. Data pelepasan carbon (emisi karbon) pada 2009-2011, di Kabupaten Ogan Ilir melepas 106 ribu ton, Banyuasin melepas sekitar 1,807 juta ton, sedangkan Muba melepas 3,7 juta ton dan OKI sebesar 2,3 juta ton.


Untuk pemberitaan media di Minggu III Mei 2020 selengkapnya dapat dilihat di lampiran.