Menggelorakan Usaha Agroedutourism

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II tahun 2020 mengalami kontraksi hingga -5,32%. Bila pada kuartal III pertumbuhan ekonomi kembali turun, maka Indonesia akan masuk jurang resesi. Mayoritas sektor industri mengalami kerugian akibat pandemi Covid-19, termasuk industri pariwisata.


Organisasi Pariwisata Dunia (UNWTO) memprediksi jumlah kunjungan wisatawan internasional turun 60 hingga 80% pada tahun 2020 karena kebijakan pembatasan perjalanan yang luas, penutupan bandara, dan perbatasan nasional. Hal ini telah menjerumuskan pariwisata internasional ke dalam krisis terburuk sejak pencatatan dimulai pada 1950 silam.


Di Indonesia, Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) mencatat hingga April 2020, industri pariwisata Indonesia merugi Rp 85,7 triliun, puluhan juta orang menganggur. Sejumlah 1,7 juta orang dari total 13 juta orang pekerja di sektor pariwisata terkena imbasnya. Sebanyak 1,4 juta pekerja dirumahkan sementara sekitar 300 ribu pekerja lain terdampak perekonomiannya.        


Sektor pariwisata banyak menyerap tenaga kerja informal. Data terakhir mengatakan bahwa pekerja informal di Indonesia berjumlah 70,5 juta orang  atau 55,72%  dari total tenaga kerja nasional.  Ribuan rumah makan dan penginapan terpaksa tutup, begitu pula dengan sejumlah moda transportasi pariwisata dan agen pariwisata yang mengalami kerugian. Bank Indonesia mencatat bahwa devisa pariwisata saat pandemi turun hingga 97% yoy (year on year) dari 1.119 juta dolar AS hanya ke 31 juta dolar AS.


Pariwisata merupakan sektor strategis dalam perekonomian Indonesia. Strategis karena tahan terhadap guncangan krisis ekonomi. Sebelum pandemi Covid-19, salah satu alternatif prioritas sumber pendapatan negara adalah memaksimalkan potensi sektor pariwisata.


BACA JUGA: Green Millennialnomic: Mendorong Milenial Bangun Ekonomi Berbasis Ekologi


Domino effect yang menerpa sektor pariwisata berdampak pada peningkatan angka kemiskinan. Padahal bila ditinjau dari sudut pandang Sustainable Development Goals (SDGs) sektor pariwisata menjadi andalan untuk mengurangi kemiskinan. Mengurangi kemiskinan merupakan target pertama dari tujuh belas target pembangunan berkelanjutan. Lalu timbul pertanyaan apakah ada jenis pariwisata yang mampu menghadapi krisis ekonomi, tangguh menghadapi pandemi Covid-19 dan tidak merusak lingkungan?  


Bisnis Agroedutourism


Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data bahwa kontribusi sektor pertanian naik menjadi 15,46% pada kuartal II tahun 2020 dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 13,57%. Pada kuartal ke II ini kontribusi sektor pertanian juga mengalami peningkatan 2,8% dibandingkan kuartal I sebesar 12,84%. Dari lima sektor penyangga utama PDB, sektor pertanian menjadi satu-satunya sektor yang tumbuh positif sebesar 2,19% sepanjang masa kenormalan baru. Ini artinya sektor pertanian mampu bertahan saat pandemi Covid-19.


Selain menghasilkan produk pertanian, usaha tani bisa dijadikan objek pariwisata dan pendidikan. Konsep memadukan usaha tani dengan pariwisata dan pendidikan dikenal dengan nama agroedutourism. Agroedutourism terdiri dari tiga frasa yaitu agro (pertanian), edu (pendidikan), dan tourism (wisata).


Agroedutourism sejalan dengan himbauan UNWTO saat pandemi Covid 19. UNWTO menghimbau negara yang selama ini menggantungkan pendapatan melalui sektor pariwisata harus mulai mengembangkan visi pariwisata berkelanjutan (sustainable tourism). Alasannya karena destinasi wisata yang mengembangkan visi ini dianggap mampu terus berjalan dalam kondisi apapun. Selain itu UNWTO menganjurkan negara-negara saat ini untuk fokus kepada pasar turis lokal hingga nantinya destinasi wisata siap sepenuhnya dibuka untuk pasar yang lebih besar yaitu wisman.

 

Agroedutourism merupakan model pariwisata yang memperhitungkan dampak ekonomi, sosial, dan lingkungan saat ini dan masa depan, memenuhi kebutuhan pengunjung, industri, lingkungan, dan masyarakat setempat.


Agroedutourism dapat dikelompokkan ke dalam wisata ekologi (eco-tourism). Ecotourism merupakan kegiatan perjalanan wisata dengan tidak merusak atau mencemari alam yang bertujuan untuk mengagumi dan menikmati keindahan alam, hewan atau tumbuhan liar di lingkungan alaminya serta sebagai sarana pendidikan.


Agroedutourism berpegang pada beberapa prinsip. Beberapa prinsip tersebut adalah : a) Memberikan pembelajaran kepada wisatawan mengenai pentingnya suatu pelestarian. b) Menekankan serendah-rendahnya dampak negatif terhadap alam dan kebudayaan yang dapat merusak daerah tujuan wisata. c) Menekankan pentingnya bisnis yang bertanggung jawab yang bekerjasama dengan unsur pemerintah dan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan penduduk lokal dan memberikan manfaat pada usaha pelestarian. d) Mengarahkan keuntungan ekonomi secara langsung untuk tujuan pelestarian, manajemen sumberdaya alam dan kawasan yang dilindungi. e) Mendorong usaha peningkatan manfaat ekonomi untuk negara, pebisnis, dan masyarakat lokal, terutama penduduk yang tinggal di wilayah sekitar kawasan yang dilindungi. f) Berusaha untuk meyakinkan bahwa perkembangan pariwisata tidak melampaui batas-batas sosial dan lingkungan yang dapat diterima seperti yang ditetapkan para peneliti yang telah bekerjasama dengan penduduk lokal. g) Mempercayakan pemanfaatan sumber energi, melindungi tumbuh-tumbuhan dan binatang liar, dan menyesuaikannya dengan lingkungan alam dan budaya.


BACA JUGA: Membangun Tak Merusak, Bisa?


Konsep agroedutourism yang sudah ada di Indonesia mengangkat ide wisata mengenai budidaya pertanian dan edukasi pertanian itu sendiri. Penggabungan konsep ini tidak hanya memberikan spot wisata dengan keindahan baru mengenai pertanian dengan cara yang menyenangkan.atau experience pertanian, namun juga memberikan banyak ilmu dan pengetahuan


Agroedutourism menjadi sarana wisata pertanian edukatif yang memperkenalkan model pengelolaan bisnis pertanian dari hulu sampai hilir serta model pendampingan petani. Saat ini, praktek pertanian presisi dapat menjadi pilihan obyek agroedutourism. Praktek pertanian presisi adalah praktik bertani yang akurat dan terkontrol dalam hal penanaman tanaman dan memelihara ternak. Syarat utama dari praktik ini adalah penggunaan teknologi informasi dari beragam perangkat keras dan lunak seperti panduan GPS, sistem kontrol, sensor, robotika dan drone.


Praktik pertanian presisi lahir dimulai saat panduan GPS digunakan untuk traktor di awal 1990-an oleh John Deere. Praktik ini mengarahkan traktor secara otomatis berdasarkan koordinat lapangan sehingga mengurangi biji, pupuk, bahan bakar, dan waktu yang terbuang. Tujuan utama praktik pertanian presisi adalah memastikan keuntungan, efisiensi, dan keberlanjutan dalam melindungi lingkungan hidup.


Selain melihat praktik pertanian presisi, tur mengelilingi rumah kaca, Praktek menanam dan memanen tanaman merupakan alternatif lain obyek agroedutourism. Tanaman yang dapat ditanam dan dipanen adalah tanaman berumur pendek seperti jagung, kacang, selada, cabai, caisin, dll. 


Berdasarkan paparan di atas ada tiga pemain kunci untuk menggelorakan usaha agroedutourism di Indonesia yaitu petani, wisatawan, dan pemerintah. Kapasitas petani menjadi faktor penentu keberhasilan mengelola suatu bisnis agroedutourism. 


Kapasitas petani mengoptimalkan fungsi lahan merupakan kunci peningkatan kualitas hidup melalui kegiatan pengelolaan agroedutourism. Kapasitas yang penulis maksud merupakan kemampuan untuk dapat melihat serta memanfaatkan peluang dan potensi yang ada di kawasan kegiatan berusaha tani. Petani yang berada di kawasan wisata dapat memanfaatkan peluang dari banyaknya wisatawan yang berkunjung.


Faktor-faktor yang mempengaruhi kapasitas petani pengelola adalah dukungan lingkungan eksternal berupa dukungan penyuluhan, kelompok tani, pemerintah desa dengan tingkat pendidikan formal petani.


Adapun manfaat agroedutourism bagi wisatawan adalah meningkatkan kesehatan tubuh, menjalin relasi dengan petani, dapat mempraktikan budidaya pertanian, menghilangkan stress dan jenuh, menikmati makanan segar dari lahan, dan banyak lainnya.


Jika pengunjung sepi maka pengelola agroedutourism bisa mendapatkan penghasilan dari produk yang dihasilkan dari lahan pertanian. Oleh sebab itu, usaha agroedutourism lebih menguntungkan bila dilakukan dengan skala besar. Pasca pandemi pemerintah harus menggelorakan usaha agroedutourism di seluruh pelosok Indonesia (*)


Oleh: Prima Gandhi

Staf Pengajar Departemen Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, IPB


Silahkan download file yang berkaitan dibawah ini:

 Menggelorakan Usaha Agroedutourism Prima Gandhi.pdf