20 Kelompok Masyarakat Sipil Pantau Gambut

Ulasan Peraturan Kementerian Lingkungan dan Kehutanan No. 70 Tahun 2017 tentang REDD+
February 12, 2018
Pantau Gambut Ajukan 5 Rekomendasi Pasca 2 Tahun Restorasi Gambut
February 13, 2018

Muhammad Teguh Surya, Direktur Yayasan Madani Berkelanjutan, Selasa (13/2) di Jakarta, mewakili 20 jejaring kelompok masyarakat sipil di delapan provinsi yang memiliki gambut, mengenalkan situs pantaugambut.id. Situs ini berisi peta, data, dan informasi terkait gambut dan restorasinya sebagai sarana kanal informasi bagi masyarakat terkait perkembangan kemajuan restorasi gambut.

JAKARTA, KOMPAS — Sejumlah 20 kelompok masyarakat sipil yang tergabung dalam Simpul Jaringan Pantau membangun kanal informasi untuk memantau perkembangan restorasi gambut. Kanal dalam pantaugambut.id ini berisi peta restorasi yang dilakukan masyarakat, laporan masyarakat, cerita masyarakat terkait gambut, serta berbagai informasi terkait ekosistem gambut.

Kanal informasi ini menjembatani kekosongan informasi terkait perkembangan restorasi gambut yang dijanjikan Presiden Joko Widodo pascakebakaran hutan dan lahan pada 2015.

Restorasi 2 juta hektar gambut di tujuh provinsi yang dijalankan Badan Restorasi Gambut hingga 2019 dinilai belum terinformasikan kepada masyarakat. ”Pantau Gambut merupakan inisiatif independen dari berbagai lembaga swadaya masyarakat di Indonesia yang memanfaatkan teknologi, kolaborasi data, dan jaringan masyarakat untuk memberikan informasi dan meningkatkan partisipasi publik dalam memastikan keberhasilan komitmen restorasi ekosistem gambut yang dilakukan semua pemangku kepentingan,” tutur Muhammad Teguh Surya, Direktur Eksekutif Yayasan Madani Berkelanjutan, mewakili Simpul Jaringan Pantau, Senin (13/2), saat mengenalkan situs pantaugambut.id kepada media.

Pantau gambut merupakan inisiatif independen dari berbagai lembaga swadaya masyarakat di Indonesia untuk memberikan informasi dan meningkatkan partisipasi publik dalam memastikan keberhasilan komitmen restorasi ekosistem gambut.

Ia mengatakan, kanal ini dibangun karena pekerjaan restorasi gambut masih banyak bersifat proyek. Karena tak merasa dilibatkan, dikhawatirkan pekerjaan restorasi tak bertahan lama.

Clorinda, analis penelitian World Resources Institute (WRI) Indonesia, bagian dari Simpul Jaringan, mengatakan, pihaknya mengundang berbagai pihak, terutama masyarakat yang mengerjakan restorasi di area masing-masing. Data ini bisa diplot dalam peta pantaugambut.id.

”Kami sedang susun protokol pemantauannya bagi kelompok masyarakat yang ingin menunjukkan restorasi gambutnya,” ujarnya.

Sumber: Kompas Cetak, 13 Februari 2018 18:32 WIB


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *