1 Juta Hektare Kebun Sawit di Hutan Primer dan Lahan Gambut

Forest City Jangan Sekadar Jadi Angan-Angan
September 13, 2019

Bincang Media : Menelisik 1 Juta Hektare Kebun Sawit di Hutan Primer dan Lahan Gambur, di Creative Hub #TemenanLagi, Yayasan Madani Berkelanjutan, Komp.Debdikbud, Pejaten Barat, Jakarta Selatan.

[Delly Ferdian]
[NewsMADANI, 11 September 2019] Yayasan Madani Berkelanjutan menemukan 1.001.474,07 hektare perkebunan sawit milik 724 perusahaan berada di dalam Hutan Primer dan Lahan Gambut yang tersebar di 24 propinsi. Temuan tersebut disampaikan Direktur Eksekutif Yayasan Madani Berkelanjutan, dalam acara bincang media Menelisik 1 Juta Hektare Kebun Sawit di Hutan Primer dan Lahan Gambut di CreativeHub #TemenanLagi, Jakarta Selatan.

Teguh juga merinci data tersebut yang menunjukkan ada 384 perusahaan dengan total luasan 540.822 hektare berada di lahan gambut, kemudian 102 perusahaan dengan total luasan 237.928 hektare berada di hutan primer, dan ada 238 perusahaan dengan total luasan 222.723 hektare berada di kawasan hutan. Dari jumlah tersebut, hampir separuhnya (333 perusahaan) dengan luasan 506.333 hektare berada di tujuh provinsi prioritas restorasi gambut.

Peninjauan perizinan terhadap 1 juta hektare kebun sawit di kawasan hutan primer dan kawasan gambut tersebut mendesak dilakukan karena merupakan kunci pencapaian komitmen iklim Indonesia dan sebagai wujud konsistensi pemerintah dalam memperbaiki tata kelola hutan dan lahan,” ujar Teguh.

Teguh mengharapkan adanya peraturan hukum yang lebih kuat untuk memastikan peninjauan ulang perizinan kebun sawit dapat terlaksana. Dan diperlukan verifikasi lapangan yang independent untuk mengecek temuannya.

Sementara itu, Deputi Direktur Sawit Wacth, Achmad Surambo, mengatakan bahwa keberadaan perkebunan sawit 1 juta hektare di kawasan hutan primer dan kawasan gambut ini adalah tantangan bagi tim kerja moratorium sawit.

Selama satu tahun ini tim kerja moratorium sawit masih melakukan persiapan baseline data. Padahal sudah banyak data yang dimiliki oleh kementerian/lembaga terkait. Konsolidasi data yang memakan waktu lama menunjukkan bahwa koordinasi antar kementerian/lembaga masih kurang baik. Sangat disayangkan waktu satu tahun dihabiskan hanya untuk persiapan data, mengingat Inpres moratorium sawit ini hanya berumur tiga tahun,” ujar Achmad Surambo.

Forest Campaigner Team Leader, Greenpeace Indonesia, Arie Rompas, memaparkan analisis Greenpeace yang menyebut 33,3 juta hektare tutupan hutan alam primer dan 6,5 juta lahan gambut yang belum terlindungi di luar peta moratorium dan di luar kawasan hutan lindung dan konservasi, sementara wilayah moratorium masih terancam dengan keberadaan konsensi perusahaan termasuk ijin perkebunan sawit.

Satu juta hektare konsesi sawit dalam hutan alam primer dan lahan gambut adalah ujian nyata bagaimana moratorium permanen dijalankan. Dengan mencabut izin tersebut pemerintah menunjukkan keseriusan untuk melindungi hutan dan lahan gambut tersisa dan bukan sekedar propaganda,” kata Arie.[ ]
Arie Rompas
Ahmad Surambo
Mohammad Teguh Surya
Suasana Diskusi
Klik tautan di bawah untuk mengunduh materi narasumber.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *