Forest City Jangan Sekadar Jadi Angan-Angan

[Berita MADANI, 10 September 2019] Konsep "Forest City" untuk Ibu Kota Negara baru saat ini baru sebatas ungkapan simbolis di hadapan publik. Demikian yang disampaikan pengamat Tata Kota Institute Teknologi Kalimantan, Farid Nurrahman dalam acara TalkShop dengan tema "Ecofriendly Capital of Indonesia" yang digelar Yayasan Madani Berkelanjutan pada 9 September 2019 di Creativehub #TemenanLagi, Jakarta Selantan.


"Saya tidak pernah melihat konsep kota yang jelas dalam rencana tata ruang kota mana pun di Indonesia. Karena ini hanya simbolis yang disampakan ke publik aja," ujar Farid.


Farid juga mengatakan, konsep perkotaan akan berbeda di pikiran setiap orang. "Jadi daripada bicara soal kota hutan, mending diperjelas 180.000 hektar ini yang boleh dibangun berapa, yang tidak boleh dibangun berapa," ucap Farid.


Juru bicara Dewan Pimpinan Pusat Partai Solidaritas Indonesia (PSI) bidang Lingkungan dan Perkotaan, Mikhail Gorbachev, pun menangkap hal yang sama. Ia bahkan mengatakan pemerintah lebih baik mengusung konsep compact city daripada forest city yang belum jelas designnya.


Compact city sendiri adalah suatu desain dan perencanaan perkotaan yang terfokus terhadap pembangunan berkepadatan tinggi dengan penggunaan yang beragam dan bercampur jadi satu dalam suatu lahan yang sama untuk mengefisienkan lahan semaksimal mungkin.


Di sisi lain, Mikhail Gorbachev menilai kebijakan pemindahan ibu kota negara ke Kalimantan penting dilakukan. "Ada beberapa pertimbangan, salah satunya aspek pemisahan administrasi pemerintahan dengan industrialisasi harus dilakukan," ujar pria yang akrab disapa Gorba ini.


Menurutnya, Indonesia harus berani memisahkan antara pusat administrasi negara dengan zona industrialisasi. Hal itu dilakukan untuk menekan polusi, kepadatan penduduk dan lainnya yang terfokus di satu titik.


Jakarta sudah dan penuh, pembangunan tersentralisasi. Pemindahan ini juga bentuk komitmen Pak Jokowi mewujudkan Indonesia sentris”, ungkap Gorba.


Sementara itu, Yayasan Madani Berkelanjutan mengatakan pemerintah pusat harus tetap menyelesaikan berbagai masalah lingkungan di Jakarta meskipun ibu kota negara dipindahkan ke Kalimantan Timur.


"Pindah ibu kota negara itu ada dua hal yang disiapkan, pertama tempat tinggal baru dan kedua menyelesaikan persoalan di ibu kota lama," ujar Direktur Yayasan Madani Berkelanjutan Teguh Surya.


Teguh juga berharap bahwa ibu kota negara nantinya benar-benar memperhatikan aspek-aspek lingkungan, sehingga konsep forest city tersebut bukan hanya sekadar simbol dan angan-angan belaka. [ ]



Kunjungi juga tautan menarik tentang pemindahan ibu kota berikut ini ya https://www.instagram.com/p/B2OwmOAn8aZ/?utm_source=ig_web_copy_linkDSC05272.jpgDSC05255.jpgDSC05230.jpgDSC05251.jpgMateri Narasumber tersedia di tautan di bawah ini.