The Guardian Sang Pendamping Parimbo  Hutan Nagari Sirukam
Potret hutan Nagari Sirukam, Kabupaten Solok, Sumatera Barat. (Yayasan Madani Berkelanjutan/Kiki Andianto)

Saat menjelajah Hutan Nagari Sirukam yang terletak di Nagari Sirukam, Kecamatan Payung Sekaki, Kabupaten Solok, Sumatera Barat, kita pasti akan dikenalkan dengan Guardian. Guardian ini menjadi salah satu pelindung Hutan Nagari Sirukam. Namun jangan membayangkan sosok Guardian ini seperti Harrison Ford yang ganteng dan gagah dengan baju lapangan seperti di Film “Indiana Jones”. Dan juga bukan seperti sosok Joo Ji Hoon, sang penjaga hutan di Gunung Jiri dalam Drama Korea Mount Jiri. 


The Guardian adalah alat sensor akustik  yang berbasis teknologi artificial intelligence (AI). Alat ini mampu mendeteksi dan merekam suara yang ada di dalam hutan, seperti suara binatang, suara mesin gergaji (chainsaw), suara truk pengangkut, hingga suara tembakan yang ada di dalam hutan. Radiusnya bisa mencapai 1,5 kilometer. Ketika mendeteksi suara tersebut, alat Guardian akan mengirimkannya secara real time melalui notifikasi atau pemberitahuan ke telepon para Parimbo atau petugas Patroli Hutan Nagari Sirukam. Selanjutnya Tim Patroli akan melakukan patroli dan pemeriksaan langsung ke lokasi yang ditunjukkan.


Kami menggunakan sistem digital atau biasa dikenal dengan artificial intelligence untuk memantau terjadinya perusakan hutan. Alat ini nanti akan memberikan notifikasi ke handphone kami para Parimbo,” tutur Jasmir Jumadi Parimbo Hutan Nagari Sirukam.


BACA JUGA: ProKlim di Areal Perhutanan Sosial Nagari Sirukam: Duet Seru untuk Mencapai Komitmen Iklim dan Penguatan Ekonomi Lokal


Alat ini bisa mendeteksi suara chainsaw yang digunakan oleh penebang kayu, hingga di jarak 1,5 kilometer dari tempat pemasangan alat,” kata Bukhtiar, Parimbo Hutan Nagari Sirukam lainnya.


Alat The Guardian ini dirakit dari ponsel bekas, kotak dengan baterai, mikrofon perekam suara dan panel surya. Ponsel bekas dimasukkan ke dalam kotak agar terlindungi dari hujan, panas dan angin. Kemudian dihubungkan dengan panel surya sebagai sumber energi dan mikrofon perekam suara untuk menangkap suara dalam radius 1,5 kilometer. Selanjutnya alat ini dipasang di dahan pohon di ketinggian 50 meter. Pemasangan di ketinggian 50 meter dimaksudkan agar alat tersebut dapat menangkap sinyal telepon. Selain itu juga bertujuan agar alat tersebut tidak dapat dicuri oleh orang-orang yang memiliki maksud untuk mengganggu alat. Alat ini juga dapat terdeteksi jika rusak, mati atau ada yang mengambil. Lokasi pemasangan juga memperhatikan cuaca sekitar, perubahan suhu dan sebagainya.


Alat The Guardian ini tidak hanya dipasang di Hutan Nagari Sirukam. KKI WARSI bersama Rainforest Connection (RFCx) telah memasang alat ini di beberapa wilayah di kawasan Lanskap Mudiak Badua yang terbentang di empat kabupaten di Sumatera Barat, mulai dari Dharmasraya, Solok, Solok Selatan dan Sijunjung. Pantauan alat Guardian ini mencapai 18.096 hektare.


Pemasangan pertama dilakukan pada Juli 2019 sebanyak 12 unit yang dipasang tersebar di empat nagari, yakni Nagari Sirukam yang berada di Kabupaten Solok, Nagari Pakan Rabaa Timur, Nagari Pakan Rabaa, dan Nagari Pasir Talang Timur di Kabupaten Solok Selatan. Pada setiap Nagari terpasang 3 alat di 3 titik yang berbeda. Pemasangan kedua dilakukan pada Februari 2020 sebanyak lima buat guardian dan dipasang di Nagari Sumpur Kudus sebanyak tiga unit dan dipasang di Nagari Jorong Simancuang Nagari Alam Pauh Duo sebanyak dua unit.


Di hutan Nagari Sirukam ini telah terpasang tiga alat Guardian. Satu di jalan menuju ke sumber air ini, dua yang lainnya dipasang di tempat yang berbeda. Dan semua alat memiliki jarak jangkauan 1,5 kilometer,” kata Bukhtiar sambil menunjukkan letak alat guardian yang ada di dahan pohon dengan ketinggian di atas 30 meter.


Guardian sangat membantu dan memudahkan kerja-kerja tim Patroli LPHN atau para Parimbo di enam nagari tersebut dalam melakukan pemantauan. Dan juga mengefektifkan kinerja tim patroli LPHN dalam mengumpulkan barang bukti terkait temuan lapangan yang dapat berupa foto temuan lapangan, rekaman suara, hingga titik koordinat lokasi temuan.


Alat ini membantu kami dalam menjaga hutan Nagari Sirukam. Dulu sebelum ada alat, kami patroli sebulan sekali keliling hutan Nagari Sirukam. Dengan adanya alat ini, membantu kami mempercepat mendapatkan informasi jika ada ada temuan. Jadi mempercepat kerja kami,” kata Bukhtiar.

Jasmir Jumadi menjelaskan bahwa alat Guardian ini membantu Tim Patroli Hutan LPHN, mengingat luas Hutan Nagari Sirukam yang cukup luas, 1.789 hektare. Sementara jumlah Parimbo Hutan Nagari Sirukam tidak banyak. “Jika sebelum adanya alat ini, kami patroli di titik-titik tertentu yang rawan terjadinya penebangan ilegal. Namun setelah adanya alat ini, kami bisa memantau hutan Nagari Sirukam lebih luas, secara digital. Alat ini memberikan kemudahan kepada kami untuk terus menjaga hutan.”


BACA JUGA: Membedah Penggunaan Dana RBP REDD+ Dari Green Climate Fund


Sejak alat Guardian dipasang, para Parimbo di Nagari Sirukam telah beberapa kali menggagalkan aksi penebangan liar. Jasmir menuturkan, bahwa dari tiga alat yang terpasang tersebut, dua alat sering mengirimkan notifikasi. Di Agustus 2019 lalu, Guardian mendeteksi perusakan hutan di kawasan hutan nagari tersebut. Ini berawal ketika di alat Guardian ini memunculkan notifikasi bahwa ada suara chainsaw yang mengindikasikan sedang terjadi kegiatan penebangan kayu di kawasan hutan nagari Sirukam. Kemudian Parimbo Tim Patroli Hutan LPHN melakukan pengecekan di lapangan dan ditemukan pelaku dan barang bukti. 


The Guardian ini membantu masyarakat dan Parimbo untuk memantau dan menjaga hutan dari kegiatan pembalakan liar dan perusakan hutan. Ia menjadi pendamping Parimbo Hutan Nagari Sirukam menjaga Hutan Nagari Sirukam tetap terjaga dan lestari. [Luluk Uliyah]