1000 Gagasan: Andika Julianto Trilaksana

Andika Julianto Trilaksana mengidentifikasikan dirinya sebagai penggiat lingkungan yang tergabung dalam kolektif Youth for Peatland. Youth for Peatland sendiri merupakan platform yang digagas oleh pemuda untuk pemuda guna mempelajari bersama mengenai urgensi keberadaan dan perlindungan lahan gambut di Indonesia.


Kali ini, pria kelahiran Jakarta yang kerap dipanggil Andika ini menyampaikan gagasannya yang ia beri judul Sagu Gambut: Alternatif Pangan Berkelanjutan dalam Menghadapi Krisis Lingkungan. Ide Andika menulis gagasan tersebut bermula dari anggapan umum bahwa orang Indonesia belum dapat dikatakan makan kalau belum makan nasi yang dapat dibuktikan dengan data bahwa beras merupakan sumber penyedia energi dan karbohidrat tertinggi bagi masyarakat Indonesia. 


BACA JUGA: 1000 Gagasan: Lenny


Menanggapi kebijakan Presiden Jokowi mengenai proyek Food Estate, mengingatkan Andika pada proyek serupa yang dijalankan oleh Presiden Soeharto yang membuka lahan gambut seluas satu juta hektar yang justru berakhir pada krisis ekologi terparah di negeri ini. Usaha mengganti sifat alami gambut yang seharusnya basah menjadi kering untuk tanaman pangan seperti padi menjadi sumber utama kerusakan gambut. Gambut yang kering sangat rentan tersulut api, merambat sangat cepat, sulit dipadamkan dan kerap kali menimbulkan polusi asap hingga melepaskan emisi ke atmosfer.


Padahal seperti yang banyak dikembangkan oleh peneliti tanaman pangan dalam mendukung upaya restorasi dan revitalisasi ekonomi masyarakat, lahan gambut basah tetap bisa menjadi andalan dalam produksi pangan, salah satunya adalah sagu. Sifat sagu yang menyesuaikan pada hampir semua jenis lahan termasuk gambut, serta tidak perlu ada perlakuan khusus dan minim input eksternal, berbeda dengan  tanaman pangan lainnya sehingga dapat menekan biaya produksi. 


Menurut Andika, berbagai aspek yang diperlukan dalam mendukung sagu baik dari hulu maupun hilir adalah sarana-prasarana pendukung dan pelatihan intensif terhadap masyarakat yang berpartisipasi dalam budidaya maupun pengolahan sagu menjadi makanan jadi dan yang terpenting adalah mengembangkan kampanye bahwa sumber karbohidrat tidak selamanya harus didapat dari beras semata.