Kisah Para Pejuang BBN Nyamplung
Biji-biji nyamplung di dalam oven. (Foto: Farida Indriastuti)

Awal Desember 2021 yang berangin. Di tepi pematang sawah Desa Patutrejo, Kecamatan Grabag, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah semerbak harum bunga nyamplung terhirup di ujung hidung. Nyamplung dalam bahasa Latin bernama Calophyllum Inophyllum sedang bermekaran. Bunga nyamplung putih bersih dengan putik [pistilium] berwarga kuning. Lebih wangi aroma bunga nyamplung dibanding bunga melati. 


Matahari siang itu menebarkan hawa hangat, tapi tidak terik. Langit acapkali ditutupi gumpalan awan mendung. Rubiah [70 tahun] tampak telaten memunguti biji nyamplung yang rontok di tanah dari pohon-pohon nyamplung di sepanjang jalan desa. Kadangkala ia menggayuh sepeda onthel tuanya perlahan, menempuh jarak lima kilometer menuju hutan nyamplung di dekat pesisir pantai Jetis. 


Tangan Rubiah keriput menua, tapi jemarinya cekatan menyibak semak-semak untuk memunguti biji nyamplung. “Dari pagi sampai sore, saya cari nyamplung. Kadang dapat setengah karung, kadang satu karung, “ujar warga Bakurejo ini.


Rubiah (70), petani. (Foto: Farida Indriastuti)


Rubiah memungut biji nyamplung sejak 2009. Anak-anaknya sibuk bekerja di sawah dan kebun. Hasil jerih payah Rubiah dalam enam bulan memungut biji nyamplung, terkumpul 25 karung. Semua biji nyamplung sudah dikeringkan dan siap diantar ke pengepul. Harga biji nyamplung kering tanpa proses sortir berkisar Rp 2.500 per kilogram di pengepul. Rubiah kadang mendapat uang Rp 500 ribu hingga Rp 1,5 juta. “Wis tuo yo arep ngopo, daripada nganggur cari biji nyamplung, “tukasnya.


Tidak cuma Rubiah. Di desa Harjobinangun, Warijo [70 tahun], juga memungut biji nyamplung dari desa ke desa. Dalam sehari, ia berhasil mengumpulkan satu sampai dua karung biji nyamplung. “Awal 2000an, saya lakukan pembibitan dari biji nyamplung, lalu saya jual bibitnya, “ujar Warijo. Harga bibit nyamplung sangat bervariasi antara Rp 5 ribu sampai Rp 15 ribu, tergantung ukuran pohonnya.


Dalam dua bulan ini, Warijo sanggup mengumpulkan 10 karung biji nyamplung. Ia tidak memiliki sawah garapan– apalagi kebun atau ladang, cuma bekerja serabutan sebagai buruh tani yang upahnya rendah. Warijo bergantung dari hasil memungut nyamplung, tunas kelapa dan melinjo yang jatuh di lahan hutan milik Perhutani. Beruntung di lahan hutan itu, Warijo boleh menanam cabe rawit di sela-sela pohon nyamplung.


“Orang kecil seperti saya, kebutuhannya ya kecil, asal cukup buat makan. Saya hidup dari menjual biji nyamplung, tunas kelapa dan kayu bakar. Dari jualan nyamplung, dapat Rp 250 ribu – 300 ribu, “ujar kakek satu cucu ini. Biasanya Warijo memanggul sendiri karung-karung yang berisi biji nyamplung ke gerobak kayu, lalu mengantar karung-karung itu ke pengepul– dengan berjalan kaki sejauh 2 – 3 kilometer.


Tegakan pohon nyamplung Purworejo paling banyak di Provinsi Jawa Tengah. Data Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Jawa Tengah mencatat, produksi buah nyamplung per pohon di Purworejo jika dihitung per tahun, yaitu 70-150 kilogram. Sedangkan produksi biji per pohon dalam setahun, yaitu 50-100 kilogram.


Sesungguhnya, nyamplung merupakan salah satu jenis pohon yang potensial sebagai sumber bahan bakar nabati (BBN) dan pemerintah telah menetapkan kebijakan energi nasional melalui Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2006, diantaranya melalui diversifikasi pemanfaatan sumberdaya energi (SDE) dari tumbuhan, berupa “biofuel”.


Untuk mendorong energi terbarukan yang ramah lingkungan, pemerintah menetapkan target produksi biofuel pada 2025 sebesar 5% dari total kebutuhan energi minyak nasional. Bahkan menugaskan Departemen Kehutanan untuk berperan menyediakan bahan baku biofuel, termasuk perijinan pemanfaatan lahan yang tidak produktif.


BACA JUGA: Limbah Sekam Padi untuk Bahan Bakar Pengering Limbah

 

Sabar [65 tahun], nama yang singkat tanpa embel-embel nama tengah atau belakang. Hari-harinya disibukkan untuk mengawasi hutan nyamplung di dekat pesisir Pantai Jetis. Kadang ia memanfaatkan lahan hutan untuk pertanian, mulai menanam cabe, palawija, kacang-kacangan dan lainnya. “Saya ini relawan penjaga hutan, bekerja hampir 12 tahun tanpa upah, “ujarnya.


Hutan dalam pengawasan Sabar, menjadi lebih rimbun dan hijau– tidak ada warga desa yang berani menebang pohon. “Mengambil kayu pohon roboh saja, warga desa tidak berani. Paling cuma memungut nyamplung, “tegas Sabar. Lelaki bertubuh kekar ini terus bercerita di gubuk tepi sawah, sambil terus mengepulkan asap rokok tembakau-kemenyan yang bau menyengat.


 * * * * *


Di Desa Patutrejo, suara deru mesin pemecah biji nyamplung kering sungguh memekakkan telinga– meraung-raung tanpa henti. Semburan partikel debu halus dari lubang buangan mesin, membuat mata perih. Dari kejauhan, Barino [49 tahun] cuma tersenyum sambil mengawasi dua pekerjanya. Pagi itu, berkuintal-kuintal biji nyamplung kering dipecah dengan mesin, lalu di pilah secara manual, sampai bersih dari kulitnya. Tetap saja, butuh ketelatenan tangan manusia untuk membersihkan biji dari kulitnya.


Setelah semua biji bersih, dua pekerja memasukkan ke oven berukuran besar, waktu pengeringan selama 2-3 hari. “Jika masuk musim hujan begini, nyamplung harus dikeringkan dengan oven. Karena panas matahari sedikit, “ujar Barino.


Setiap hari, Barino dibantu anak lelaki sulungnya dan dua pekerjanya mengolah biji kering nyamplung menjadi minyak mentah [crude oil]. Gara-gara kesibukannya memproduksi minyak nyamplung, sawah dan kebunnya terlantar. “Kadang-kadang saja saya tengok, itupun kalau sempat, “tukasnya. Bagaimana tidak, penghasilan Barino dari mengolah minyak nyamplung saja berkisar Rp 7-an juta per hari. Ia mampu memproduksi 600 liter hingga 1.000 liter minyak nyamplung per hari, tergantung permintaan pembeli. Barino selalu siaga dengan stok 2.000 liter minyak nyamplung di jerigen-jerigen besar.


Biji nyamplung pun didatangkan dari berbagai daerah di pulau Jawa, termasuk dari wilayah Kebumen, Gresik dan Banyuwangi. “Tidak mencukupi jika cuma nyamplung dari Purworejo, “ujar Barino. Ia menggeluti dunia nyamplung selama hampir 12 tahun. Awal 2008, Barino berkenalan dengan Prof. Dr. Sudradjat, M.Sc, dari situlah kisah Barino dan nyamplung dimulai. Tapi baru pada 2009, Barino serius mempelajari soal seluk-beluk nyamplung.


Biji Nyamplung (Foto: Farida Indriastuti)


Di Purworejo, pohon nyamplung banyak ditemui di tiga desa: Patutrejo, Kertojayan dan Ketawangrejo. Tapi cuma di desa Patutrejo yang aktif dalam mengembangkan minyak nyamplung, terutama Barino. Bapak dua anak ini paling bersemangat dalam mempelajari nyamplung sebagai bahan bakar nabati hingga manfaat lainnya.


Barino terus bereksperimen dan berinovasi membuat mesin pengolah minyak nyamplung, baik yang bertenaga listrik atau bahan bakar minyak. Jika mengingat perjuangan awal-awal dulu, Barino cuma menghela nafas dengan senyum getir. “Sedih, lha piye?” ujarnya. Pada 2009, Barino ditunjuk sebagai kepala produksi pabrik skala desa untuk BBN nyamplung di bawah Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Wana Lestari. Semua mesin pengolah nyamplung merupakan hibah dari Kementerian ESDM. Beberapa kali Barino melakukan uji coba memproduksi minyak nyamplung alias biofuel.


Sebagai langkah awal, Barino memproduksi 80 liter dan diberikan cuma-cuma (gratis) untuk traktor dan mobil. Pada 2012, Barino memproduksi biofuel sebanyak 350 liter untuk uji coba lagi. “Saya sempat kerjasama dengan LSM Relung di Yogyakarta, “ujarnya. Saat itu, Barino melakukan road test dengan gunakan tiga mobil Strada Triton dengan bahan bakar biofuel nyamplung melalui rute perjalanan: Purworejo, Cilacap, Semarang hingga Yogyakarta, selama 3 hari pulang-pergi.


Tiga mobil Strada Triton berjalan mulus, tanpa hambatan di jalanan yang berkelok ular, naik – turun maupun berbatu terjal. “Biofuel nyamplung 350 liter tidak habis untuk tiga mobil, satu mobil cuma butuh 60 liter dan masih banyak sisanya, “kata Barino. Saat itu, ia membeli biji nyamplung dari petani masih seharga Rp500 – Rp750 per kilogram– sebelum diolah menjadi biofuel.


Biaya yang dibutuhkan Barino Rp 75 juta, uang sebanyak itu terkumpul dari hasil patungan Barino pribadi dan organisasi. Tentu yang mengecewakan Barino, setelah berhasil road test mengelilingi Jawa Tengah– justru tidak ada dukungan dari pemerintah daerah atau pusat. “Saya produksi biofuel dengan biaya produksi mahal dan tidak ada pembeli, pemerintah tidak memberikan akses distribusi– apalagi memberikan subsidi. Sama sekali tidak ada insentif, cuma hibahkan mesin-mesin yang sekarang mangkrak, jadi besi karatan, “keluh Barino. Dua kali Barino membagi-bagikan gratis biofuel nyamplung, daripada minyak jadi rusak.


Pabrik biofuel nyamplung atau Demplot Desa Mandiri Energi (DME) berbasis hutan tanaman nyamplung di desa Patutrejo itu pernah diresmikan oleh Menteri Kehutanan, Zulkifli Hasan, pada 6 Desember 2009. Hasil kerjasama Badan Litbang Kehutanan dan Departemen Energi dan Sumberdaya Mineral.


Barino lantas memilih jalan terjalnya sendiri, menyewa dua mesin pengolah nyamplung dari LMDH Wana Lestari Rp 3 juta per tahun. Mesin masih bagus dan tidak karatan– ia angkut kerumahnya yang berjarak 200an meter. Sejak  2020, Barino secara mandiri mengolah minyak mentah [crude oil] nyamplung dan menolak untuk menyerah dengan keadaan.


“Saya siap dukung biofuel nyamplung sampai kapan pun. Bahkan saya ingin membeli bekas mesin-mesin pengolah nyamplung hibah Kementerian ESDM yang mangkrak tidak terpakai, meski sudah karatan dan tidak berfungsi. Saya akan dirikan museum edukasi biofuel nyamplung. Bagaimana pun ilmu pengetahuan itu mahal untuk anak – cucu, “ungkapnya.


Pada akhirnya, Barino mengelola usaha skala rumahan [home industry] minyak nyamplung hingga menghasilkan stok 2.000 liter. Meski tidak aktif secara kelembagaan, Barino terus memperjuangkan minyak nyamplung. Ia tidak peduli ada insentif atau tidak dari pemerintah. Toh, pada akhirnya pembeli datang sendiri dan Barino kerepotan memenuhi permintaan pembeli dari berbagai daerah.


“Pemerintah gembar-gembor soal bahan bakar nabati, tapi tidak ada daya dukung permodalan, “tukas Barino. Harapan Barino, pemerintah memberikan pendampingan dan komitmen, mulai pengadaan peralatan hingga siap menerima hasil produksi. “Jangan lepas tanggungjawab. Pendampingan secara teknis itu penting untuk menekan anggaran, menekan biaya operasional sampai memberikan akses pembeli dan solusi persoalannya, “imbuhnya.


Jika biaya produksi biofuel nyamplung Rp 15 ribu – 25 ribu per liter, tentu masyarakat tidak memiliki daya beli. Mau tidak mau, Barino mencari jalan tengah dengan memproduksi minyak mentah [crude oil]– ia tidak lagi memikirkan keruwetan dunia distribusi nyamplung. Barino juga piawai memodifikasi mesin-mesin pengolah nyamplung dengan biaya minim Rp 25 juta – 35 juta dengan bahan stainless steel yang berkualitas.


 * * * * *


Di penghujung sore di kawasan Ngaglik, Sleman, Yogyakarta. Prof. Dr. Ir. Budi Leksono, M.P mengisahkan, bertahun-tahun meneliti nyamplung di Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan. Ia salut dengan komitmen kawan-kawan petani sekaligus pegiat minyak nyamplung. Meski tanpa dukungan pemerintah, tapi mereka mandiri dalam mengembangkan minyak nyamplung.


Semisal Barino, selalu bersikap adil dalam urusan bagi untung. Ia memberi Rp500 per kilogram nyamplung ke Perhutani. Biasanya, Barino mengumpulkan dulu uangnya hingga beberapa juta– lalu di transfer ke rekening bank milik Perhutani. Bagaimanapun, para petani memungut nyamplung di lahan hutan nyamplung milik Perhutani, meski cuma sebagian. Barino tidak tega, jika memotong uang penjualan nyamplung dari para petani kecil yang mayoritas lansia berusia sepuh. Ia takut kuwalat, Rp500 itu perkara kecil baginya– dan rasa hormat pada para sepuh ini bagian dari filosofi Jawa yang dipegang teguhnya.


Profesor Budi paham benar kesulitan dan perjuangan para petani – pengolah nyamplung mandiri di Purworejo yang menjadi wilayah dampingannya. “Dulu tidak banyak yang menekuni nyamplung, sehingga saya berusaha membuka tabir keunggulan dari berbagai aspek. Sekarang sudah banyak pemerhati nyamplung, sehingga banyak temannya, “ujarnya.


Potensi nyamplung sangat besar, pohonnya mudah dibudidayakan secara monokultur [monoculture] atau tumpang sari [mixed-forest] di lahan kritis dan daerah marginal– bahkan bagus untuk memulihkan lingkungan yang rusak dengan konservasi nyamplung. Mampu menahan abrasi dan mengurangi resiko bencana yang disebabkan angin laut yang besar. “Bisa untuk memulihkan tanah pasca tambang batubara juga,“ ungkap Profesor Budi.


Jika menengok ke belakang, dengan dikeluarkan Peraturan Menteri ESDM Nomor 25 Tahun 2013 untuk meningkatkan campuran biodiesel sebesar 10%, guna untuk mengatasi cadangan minyak bumi yang menipis, mengantisipasi krisis iklim dan menghemat devisa negara, pemerintah justru lebih fokus pada bahan bakar nabati dari kelapa sawit, yang tergolong tanaman pangan.


Sedangkan nyamplung bukan tanaman pangan, sebagai biofuel nyamplung tidak akan mengganggu kebutuhan pangan. Produktivitas nyamplung juga lebih tinggi dibandingkan tanaman sejenisnya; jarak pagar 5 ton per hektar, sawit 6 ton per hektar dan nyamplung 20 ton per hektar.


Data hasil penelitian Profesor Budi bersama timnya yang berjudul “Nyamplung [Calophyllum inophyllum] Sumber Energi Biofuel Yang Potensial” mencatatkan beragam keunggulan biodiesel yang dihasilkan nyamplung diantaranya, Rendemen minyak nyamplung tergolong tinggi dibandingkan jenis tanaman lain (jarak pagar; 40-60%, sawit; 46-54% dan nyamplung; 40-73%), sebagian parameter telah memenuhi standar kualitas biodiesel Indonesia, minyak biji nyamplung memiliki daya bakar dua kali lebih lama dibandingkan minyak tanah—dalam uji untuk untuk mendidihkan air ternyata minyak tanah yang dibutuhkan 0,9 ml, sedangkan minyak biji nyamplung hanya 0,4 ml. Dan terakhir,  minyak biji nyamplung memiliki keunggulan kompetitif di masa depan– karena biodiesel nyamplung dapat digunakan pencampur solar dengan komposisi tertentu, bahkan dapat digunakan 100% apabila teknologi pengolahannya tepat.


Selain kualitas emisi lebih baik dari solar atau bensin, dapat pula digunakan sebagai biokarosen pengganti minyak tanah atau bioavtur untuk bahan bakar pesawat terbang. “Permintaan nyamplung untuk bioavtur dari Jepang sangat tinggi, selain permintaan untuk bahan kosmetik dan obat. Bahkan Arab Saudi sudah memikirkan jika cadangan minyak bumi habis– mereka meminta ribuan bibit nyamplung dikirim kesana dengan pesawat, “ujar Profesor Budi.


BACA JUGA: Peluang Mencapai Komitmen Iklim Indonesia Dengan Elaborasi Kebijakan Bahan Bakar Nabati 


Meski tidak bernasib sial seperti jarak pagar— tapi nyamplung juga di anak-tirikan dalam kebijakan energi terbarukan oleh pemerintah. Padahal semua elemen nyamplung bermanfaat dari kayu, termasuk kayu komersil yang dapat digunakan untuk bahan pembuatan perahu, balok, tiang, papan lantai dan papan bangunan perumahan dan bahan konstruksi ringan.


Sedangkan getah, dapat disadap untuk mendapatkan minyak yang dikenal dengan nama minyak tamanu  [tamanu oil]. Bahan aktif dari getah ini diindikasikan berkhasiat untuk menekan pertumbuhan virus HIV. Pada daun, mengandung senyawa costatolide-A, saponin dan acid hidrocyanic yang berkhasiat sebagai obat oles untuk sakit encok, bahan kosmetik untuk perawatan kulit, menyembuhkan luka seperti luka bakar dan luka potong.


Sedangkan bunganya yang wangi, dapat digunakan sebagai campuran untuk mengharumkan minyak rambut. Terakhir biji, setelah diolah menjadi minyak bermanfaat untuk pelitur, minyak rambut dan minyak urut, berkhasiat juga untuk obat urus-urus dan rematik. Selain untuk bahan bakar nabati yang ramah lingkungan; biofuel, biodiesel dan bioavtur.


Pada akhirnya, para petani, pengepul, pengolah nyamplung dan lainnya—memilih rute dan jejaknya sendiri secara mandiri. Bahkan seorang pioner biofuel nyamplung pertama kali surut semangatnya. Ialah Samino asal Kroya, Cilacap, memilih pensiun dan mengakhiri untuk mengolah nyamplung. “Mesin-mesin saya nganggur. Sekarang saya menikmati masa tua saja, “ujarnya dengan suara parau dari balik telpon genggam. (


Oleh: Farida Indriastuti.


Artikel sudah tayang di Langgam