Madani

Tentang Kami

Perpres NEK Harus Mampu Melindungi Iklim, Hutan dan Meningkatkan Perekonomian Masyarakat

Perpres NEK Harus Mampu Melindungi Iklim, Hutan dan Meningkatkan Perekonomian Masyarakat

Pemerintah pada 29 Oktober 2021 telah mengesahkan Perpres 98/2021 tentang Penyelenggaraan Nilai Ekonomi Karbon untuk Pencapaian Target Kontribusi yang Ditetapkan Secara Nasional dan Pengendalian Emisi Gas Rumah Kaca dalam Pembangunan Nasional. Upaya ini perlu untuk diapresiasi karena berperan penting dalam pencapaian komitmen iklim dan merupakan payung hukum untuk mencapai target penurunan emisi. 

Perpres 98/2021 ini menekankan bahwa Nilai Ekonomi Karbon (NEK) merupakan langkah untuk mendukung perlindungan masyarakat dari bencana iklim. Kami berharap Perpres NEK ini mampu berkontribusi melindungi lingkungan hidup secara keseluruhan, termasuk iklim, hutan, sekaligus dapat meningkatkan perekonomian masyarakat secara menyeluruh, serta dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat adat dan lokal terutama yang menjaga hutan,” kata Nadia Hadad, Direktur Eksekutif Yayasan Madani Berkelanjutan, saat memberikan sambutan pada Talkshow Antara Masyarakat Penjaga Hutan dan Nilai Ekonomi Karbon yang diselenggarakan pada 6 April 2022. 

Direktur Eksekutif Yayasan Madani Berkelanjutan, Nadia Hadad saat menyampaikan kata sambutan pada Talkshow Antara Masyarakat Penjaga Hutan dan Nilai Ekonomi Karbon yang diselenggarakan pada 6 April 2022.

Hadir menjadi narasumber dalam Talkshow ini antara lain Agus Rusly, S.Pi., M.Si. (Kepala Subdit Dukungan Sumberdaya Perubahan Iklim, Direktorat Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim, KLHK), Dr. Joko Tri Haryanto (Analis Kebijakan, Badan Kebijakan Fiskal, Kementerian Keuangan), Paul Butarbutar (Direktur Eksekutif METI/Co-founder IRID), dan Emmy Primadona (Koordinator Program Iklim, KKI-Warsi).

Apalagi hampir 40 ribu desa berada di sekitar atau tepi kawasan hutan (47%), sementara di dalam kawasan hutan hampir 4%. Harus diakui bahwa mereka dapat berperan penting dalam menjaga komitmen iklim Indonesia. Masyarakat ini harus dilibatkan secara aktif dan tidak hanya dijadikan elemen penerima manfaat saja, tetapi menjadi subjek,” tambah Nadia Hadad.

Emmy Primadona, Koordinator Program Iklim, KKI-Warsi, menambahkan bahwa banyak contoh baik di lapangan yang membuktikan bahwa Perhutanan Sosial terbukti mampu mereduksi emisi karbon melalui pengurangan laju deforestasi hutan. Contohnya seperti di Lanskap Hutan Lindung Bukit Panjang Rantau Bayur (Bujang Raba), di wilayah Kecamatan Bathin III Ulu, Kabupaten Bungo, Provinsi Jambi. Pendanaan yang mereka dapatkan dari karbon mencapai Rp 1 miliar. Dari hasil kesepakatan pemuka dan masyarakat desa, dana tersebut dibelikan sembako dan dibagikan merata kepada 1.259 kepala keluarga yang terlibat dalam pengelolaan Hutan Lindung Bujang Raba. “NEK menjadi peluang bagi masyarakat untuk mendapatkan dukungan pendanaan untuk digunakan membiayai kegiatan menjaga hutan sekaligus kegiatan sosial seperti beasiswa, panti jompo, patroli hutan, dan sebagainya,” kata Emmy Primadona. 

Lebih lengkap materi narasumber dalam Talkshow Antara Masyarakat Penjaga Hutan dan Nilai Ekonomi Karbon dapat diunduh di dalam lampiran berikut. 

Related Article

Give Indonesia’s Next Generation a Fight for Survival

Give Indonesia’s Next Generation a Fight for Survival

[Jakarta, Tuesday, April 5, 2022] The IPCC Report on Mitigation released on April 4, 2022 unequivocally states that we must act now to reduce global emissions by half by 2030 in order to hold global warming to no more than 1.5 degrees. Countries’ current climate commitments (NDCs) would take us to 2.8 degrees of global warming by 2100, well above the safe limit of 1.5 degrees. The report also explicitly states that emissions reductions in the agriculture, forestry and land (AFOLU) sector can help reduce global emissions at scale, but cannot compensate for delayed emissions reductions in other sectors.

Therefore, for Indonesia’s future generations to have a chance of survival, the government must do two things at once: drastically reduce fossil energy and maintain and restore the remaining natural ecosystems that play a major role in absorbing GHG emissions from the atmosphere. This includes protecting all remaining natural forest landscapes, no more clearing and draining of peat, and massive mangrove preservation and restoration.This is a very important issue,” said Nadia Hadad, Executive Director of Yayasan Madani Berkelanjutan in response to the IPCC Report on Mitigation that was issued on April 4, 2022.

Currently, Madani’s spatial assessment finds that around 9.7 million hectares of Indonesia’s natural forests and 2.9 million hectares of peat ecosystems that are outside of licenses/concessions and areas allocated for social forestry remain unprotected by the new license suspension policy. These natural forests need to be urgently protected by various policy instruments. In addition, there are 27.2 million hectares of natural forests within licenses/concessions (palm oil, IUPHHK-HA, IUPHHK-HT, mineral and coal concessions and oil and gas concessions) that also need to be considered for strategies to protect them.

The Indonesian government has set a target of Indonesia FOLU Net Sink 2030, with the ambition that Indonesia’s forest and land sector will no longer be an emitter but a carbon sink by 2030. One of its goals is to reduce deforestation and degradation. This ambition deserves appreciation and support for its implementation. However, this ambition needs to be reflected in Indonesia’s NDC, which will be updated in 2022 (Second Updated NDC).,” said Yosi Amelia, Forest and Climate Program Officer of Yayasan Madani Berkelanjutan.

The government has also established a Value for Carbon Economy (NEK) policy to achieve Indonesia’s NDC target and control emissions in development. “Given the urgency of reducing emissions and the 2030 target, the Value of Carbon Economy (NEK) should be prioritized for actions that actually reduce emissions from the atmosphere – including those undertaken by indigenous peoples and local communities as forest guardians – and should not rely on offsets, which without strict rules and transparency can undermine climate ambition,” added Yosi Amelia.

The IPCC Report also states that to maximize the mitigation potential of the AFOLU sector, policies that directly address emissions and encourage the implementation of land-based mitigation options are needed – one of which is through establishing and respecting tenure rights and community-based forest management.

In this case, the Government of Indonesia needs to be appreciated considering that Indonesia’s Updated NDC document has emphasized respect and recognition of the rights of indigenous and local communities through empowerment and recognizing the rights of indigenous and local communities in development. In line with this, the Government has also opened up opportunities for granting forest management rights through Social Forestry. However, to date, the granting of social forestry management licenses for forest management communities is still far from the target set by the government. Meanwhile, in Indonesia’s FOLU Net Sink 2030 target, the social forestry program is one of the key strategies to achieve it. To align with this target, the Government needs to accelerate the granting of Social Forestry licenses for indigenous and local communities and strengthen assistance in its implementation.,” added Yosi Amelia.

Local governments, as one of the Non-Party Stakeholders, are key in carrying out emission control actions in their regions. “To accelerate the achievement of climate commitment targets, local governments have been mandated to take part in organizing climate change mitigation and adaptation, as well as playing a role in organizing the Value of Carbon Economy (NEK) as stipulated in Presidential Regulation 98/2021. More specifically, Perpres NEK requires provincial governments to develop baselines, targets and action plans for GHG emission reduction, conduct guidance, inventory, monitor and report on GHG emission control actions. However, to carry out the mandate, it is important to ensure the alignment of national and regional policies, improve the ability and capacity of regions in sustainable planning, strengthen green funding sources, and involve other multi-sectors, both academics and the private sector, to carry out low-carbon and climate-resilient development,” said Resni Soviyana, Program Officer Green Development of Yayasan Madani Berkelanjutan.

M. Arief Virgy, Biofuel Program Officer of Yayasan Madani Berkelanjutan, added that the New and Renewable Energy Bill (RUU EBT) can be a strategic opportunity for Indonesia to encourage energy transition from fossil energy to renewable energy, including biofuels as transitional energy. “However, in order for the national biofuel policy to be in line with the achievement of Indonesia’s climate commitments and net zero emissions, RUU EBT needs to include arrangements for fulfilling the principles of social and environmental sustainability in the development of biofuel from upstream to downstream aspects and prioritize diversification of raw material commodities by emphasizing the use of 2nd generation biofuel technology or waste,” said M. Arief Virgy. [ ]

Media Contact:

  • Nadia Hadad, Executive Director of Yayasan Madani Berkelanjutan, HP. 0811 132 081
  • Yosi Amelia, Forest and Climate Program Officer of Yayasan Madani Berkelanjutan, HP. 0813 2217 1803
  • M. Arief Virgy, Biofuel Program Officer of Yayasan Madani Berkelanjutan HP. 0859 2614 0003
  • Luluk Uliyah, Senior Media Communication of Yayasan Madani Berkelanjutan, HP. 0815 1986 8887

Related Article

Berikan Generasi Mendatang Indonesia Kesempatan Berjuang Untuk Bertahan Hidup

Berikan Generasi Mendatang Indonesia Kesempatan Berjuang Untuk Bertahan Hidup

[Jakarta, Selasa, 5 April 2022] Laporan IPCC tentang Mitigasi yang  keluar pada 4 April 2022 dengan tegas menyatakan bahwa kita harus beraksi sekarang untuk mengurangi emisi global hingga setengahnya pada 2030 agar dapat menahan laju pemanasan global tidak melebihi 1,5 derajat. Komitmen iklim (NDC) negara-negara saat ini akan membawa kita ke pemanasan global 2,8 derajat pada 2100, jauh di atas batas aman 1,5 derajat. Laporan ini dengan tegas juga menyatakan bahwa pengurangan emisi di sektor pertanian, kehutanan, dan lahan (AFOLU) dapat membantu mengurangi emisi global dalam skala besar, tapi tidak dapat mengkompensasi penundaan pengurangan emisi di sektor lain.

Oleh karena itu, agar generasi mendatang Indonesia memiliki peluang untuk selamat, pemerintah harus melakukan dua hal sekaligus: mengurangi energi fosil secara drastis serta menjaga dan memulihkan ekosistem alam tersisa yang berperan besar dalam menyerap emisi GRK dari atmosfer. Hal ini termasuk melindungi seluruh bentang hutan alam tersisa, tidak lagi membuka dan mengeringkan gambut, dan menjaga dan memulihkan mangrove secara masif,” ujar Nadia Hadad, Direktur Eksekutif Yayasan Madani Berkelanjutan menanggapi Laporan IPCC tentang Mitigasi yang telah dikeluarkan pada 4 April 2022.

Saat ini, kajian spasial Madani menemukan bahwa sekitar 9,7 juta hektare hutan alam Indonesia dan 2,9 juta hektare ekosistem gambut yang berada di luar izin/konsesi dan wilayah yang dialokasikan untuk perhutanan sosial masih belum terlindungi oleh kebijakan penghentian pemberian izin baru. Hutan-hutan alam ini perlu segera dilindungi oleh berbagai instrumen kebijakan. Selain itu, ada hutan-hutan alam di dalam izin/konsesi (sawit, IUPHHK-HA, IUPHHK-HT, konsesi minerba dan konsesi migas) sebesar 27,2 juta hektare yang juga perlu dipikirkan strategi menjaganya. 

Pemerintah Indonesia telah menetapkan target Indonesia FOLU Net Sink 2030 yang berambisi agar sektor hutan dan lahan Indonesia tidak lagi menjadi pengemisi melainkan menjadi penyerap karbon pada 2030. Salah satu sasaran kerjanya adalah pengurangan deforestasi dan degradasi. Ambisi ini layak diapresiasi dan didukung implementasinya. Namun, ambisi ini perlu tercermin dalam dokumen NDC Indonesia yang sedianya akan diperbarui pada 2022 (Second Updated NDC),” kata Yosi Amelia, Program Officer Hutan dan Iklim Yayasan Madani Berkelanjutan.

Pemerintah juga telah menetapkan kebijakan Nilai Ekonomi Karbon (NEK) untuk mencapai target NDC Indonesia dan mengendalikan emisi dalam pembangunan. “Mengingat urgensi untuk mengurangi emisi dan adanya target 2030, Nilai Ekonomi Karbon (NEK) harus diprioritaskan untuk aksi yang betul-betul mengurangi emisi dari atmosfer – termasuk yang dijalankan masyarakat adat dan masyarakat lokal selaku penjaga hutan – dan tidak bisa bertumpu pada offset yang tanpa aturan yang ketat dan transparansi justru dapat mengurangi ambisi iklim,” tambah Yosi Amelia.

Dalam IPCC Report juga disebutkan bahwa untuk memaksimalkan potensi mitigasi sektor AFOLU, diperlukan kebijakan yang secara langsung menangani emisi dan mendorong penerapan opsi mitigasi berbasis lahan – salah satunya melalui penetapan dan penghormatan hak tenurial dan pengelolaan hutan berbasis masyarakat. 

Dalam hal ini, Pemerintah Indonesia perlu diapresiasi mengingat dokumen Updated NDC Indonesia telah menekankan penghormatan dan pengakuan hak-hak masyarakat adat dan lokal melalui pemberdayaan dan mengakui hak-hak masyarakat adat dan lokal dalam pembangunan. Sejalan dengan ini, Pemerintah juga telah membuka peluang pemberian hak pengelolaan hutan melalui Perhutanan Sosial. Akan tetapi, sampai saat ini, pemberian izin pengelolaan perhutanan sosial bagi masyarakat pengelola hutan masih jauh dari target yang dicanangkan pemerintah. Sementara itu, dalam target Indonesia FOLU Net Sink 2030, program perhutanan sosial menjadi salah satu strategi kunci untuk pencapaiannya. Agar target ini dapat selaras, Pemerintah perlu mempercepat pemberian izin Perhutanan Sosial bagi masyarakat adat dan lokal serta memperkuat pendampingan dalam implementasinya,” tambah Yosi Amelia.

Pemerintah daerah sebagai salah satu Non-Party Stakeholders, menjadi kunci dalam menjalankan aksi-aksi pengendalian emisi di wilayahnya. “Untuk mengakselerasi pencapaian target komitmen iklim, pemerintah daerah telah dimandatkan untuk turut andil dalam penyelenggaraan mitigasi dan adaptasi perubahan iklim, serta berperan dalam penyelenggaraan Nilai Ekonomi Karbon (NEK) seperti yang tertuang dalam Perpres 98/2021. Lebih spesifik lagi, Perpres NEK mewajibkan pemerintah provinsi untuk menyusun baseline, target dan rencana aksi pengurangan emisi GRK, melakukan pembinaan, inventarisasi, memonitor dan melaporkan aksi pengendalian emisi GRK. Namun, untuk menjalankan mandat tersebut, penting untuk memastikan keselarasan kebijakan nasional dan daerah,  peningkatan kemampuan dan kapasitas daerah dalam penyusunan perencanaan yang berkelanjutan,  penguatan sumber pendanaan hijau, serta keterlibatan multisektor lainnya baik akademisi maupun swasta untuk menjalankan pembangunan rendah karbon dan berketahanan iklim,” kata Resni Soviyana, Program Officer Green Development Yayasan Madani Berkelanjutan.

M. Arief Virgy, Program Officer Biofuel Yayasan Madani Berkelanjutan, menambahkan bahwa Rancangan Undang-Undang Energi Baru dan Terbarukan (RUU EBT) dapat menjadi peluang strategis Indonesia untuk mendorong transisi energi dari energi fosil ke energi terbarukan, termasuk Bahan Bakar Nabati sebagai energi transisi. “Namun, agar kebijakan BBN nasional selaras dengan pencapaian komitmen iklim Indonesia serta emisi nol bersih, RUU EBT perlu memasukkan pengaturan pemenuhan prinsip keberlanjutan sosial dan lingkungan dalam pengembangan BBN baik aspek hulu hingga hilir serta mengedepankan diversifikasi komoditas bahan baku dengan menekankan pada pemanfaatan teknologi BBN generasi 2 atau limbah,” kata M. Arief Virgy. [ ] 

Kontak Media:

  • Nadia Hadad, Direktur Eksekutif  Yayasan Madani Berkelanjutan, HP. 0811 132 081
  • Yosi Amelia, Program Officer Hutan dan Iklim Yayasan Madani Berkelanjutan, HP. 0813 2217 1803
  • M. Arief Virgy, Program Officer Biofuel Yayasan Madani Berkelanjutan  HP. 0859 2614 0003
  • Luluk Uliyah, Senior Media Communication Yayasan Madani Berkelanjutan, HP. 0815 1986 8887

Related Article

id_IDID