Membaca Negosiasi Punan Lewat Tubuh dan Zine

Membaca Negosiasi Punan Lewat Tubuh dan Zine

Merasakan krisis iklim lewat pemutaran film Negosiasi Punan, seni body mapping, dan pembuatan zine bersama Climate Creative Lab #2 di Jakarta.

Merasakan krisis iklim lewat pemutaran film Negosiasi Punan, seni body mapping, dan pembuatan zine bersama Climate Creative Lab #2 di Jakarta.

No headings found on page

Sebuah film dokumenter diputar, lalu penonton diminta menggambar tubuh dan menuangkan kesannya lewat zine. Dari sana, krisis iklim berhenti menjadi angka dan berubah menjadi rasa lapar, ingatan, serta pertanyaan tentang masa depan yang ingin dibawa pulang.

Foto

Di sebuah bilangan coffeeshop di daerah Kemang, Jakarta Selatan, lantai ruangan berubah menjadi kertas gambar. Tiga lembar besar dibentangkan, masing-masing memuat satu siluet tubuh manusia yang masih kosong. Spidol berserakan di sekitarnya.

Tiga puluh enam orang baru saja menonton sebuah film. Kini mereka diminta melakukan hal yang tidak biasa: memindahkan apa yang tersisa di kepala dan dada mereka ke dalam tubuh pada gambar tersebut. Belum ada diskusi. Belum ada sesi tanya jawab. Hanya tubuh kosong, spidol, dan ingatan yang masih hangat.

Peristiwa itu berlangsung pada Jumat (10/7/2026) dalam Climate Creative Lab #2, ruang belajar yang dikembangkan oleh CIVIC Toolkit bersama MADANI Berkelanjutan. Alih-alih ceramah, kegiatan ini menggunakan film, seni, dan refleksi untuk memahami krisis ekologis. 

Foto

Film yang diputar berjudul Negosiasi Punan, sebuah dokumenter berdurasi 25 menit karya sutradara Rhino Ariefiansyah. Kameranya menempuh perjalanan panjang menuju hulu Sungai Tubu di Kalimantan Utara, ke wilayah masyarakat Punan. Penonton diajak melihat hutan yang menjadi rumah sekaligus dapur, sungai yang menjadi jalan, tradisi yang berpindah dari mulut ke mulut, serta perubahan yang datang melalui negara, pembangunan, dan perusahaan.

Tubuh yang bercerita

Maka mereka menggambar.

Di satu kertas, seorang kepala menangis. Di dahinya tertulis "TAKUT". Di sekelilingnya berkerumun pertanyaan tentang guru yang terlalu sedikit dan anak-anak yang menunggu diajar.

Di kertas lain, hati digambar retak. Kelompok yang membuatnya menjelaskan alasannya.

"Di hatinya ada broken heart karena ruang hidup yang ada di sana sudah terancam."

Di bagian perut muncul gambar ikan dan babi hutan. Seorang peserta menerangkan kegelisahan yang masih tersisa setelah film selesai.

"Masyarakat takut merasa kelaparan. Karena hutannya mulai hilang, akses mencari makanan sudah susah, mendapatkan ikan sudah susah, dan berburu babi pun sudah susah."

Di telapak tangan, seseorang menulis "TURUN TANGAN". Di dekatnya muncul kata "Pejuang", "PEACE", dan "JUSTICE". Tangan menjadi tempat menaruh niat menjaga hutan, wilayah, dan hak. Turun ke kaki, gambar berubah suram. Ada kerikil, garis-garis yang saling silang, tumpukan uang, gergaji mesin, dan ekskavator. Warna abu-abu memenuhi ruang. Seorang peserta menatap gambar kelompoknya, lalu bertanya.

"Saat hutan sudah rusak, sungai tercemar, lalu harus kemana kaki ini melangkah?"

Tertangkap sebelum dijelaskan

Yang mengejutkan, semua gambar itu muncul sebelum sutradara sempat berbicara. Belum ada penjelasan tentang latar penelitian, premis film, atau konteks pembangunan di wilayah Punan. Peserta sudah lebih dulu menangkapnya lewat siluet tubuh.

Rhino Ariefiansyah memperhatikan tiga kertas itu, lalu berkata:

"Satu hal yang menarik buat saya dalam proses ini adalah ternyata tanpa diskusi sudah banyak hal yang ditangkap oleh teman-teman."

Betharia Nurhadist dari tim produksi merasakan hal serupa. Premis yang selama ini mereka bawa dalam film ternyata sampai tanpa perlu dijelaskan.

"Saya tidak menyangka premis yang ingin kami sampaikan, tentang bagaimana konstruksi masa depan dan modernisasi datang ke masyarakat, ternyata bisa sampai dan langsung ditangkap teman-teman."

Metode menggambar siluet tubuh ini disebut body mapping. Ia tidak mengukur siapa yang menafsirkan film dengan benar. Ia hanya membuat satu hal terlihat: apa yang tersisa pada penonton setelah lampu menyala kembali.

Hutan sebagai jaringan hidup

Satu tema muncul paling konsisten: hutan. Peserta tidak menggambarkannya semata sebagai bentang hijau yang perlu dilestarikan. Hutan hadir sebagai rumah, pangan, air, wilayah, pengetahuan, dan hubungan antargenerasi.

Salah satu kelompok menggambar pohon, ikan, babi, air, dan denyut nadi di dalam bagian hati. Seorang peserta menjelaskan maksudnya.

"Dua hal ini sebenarnya bukan sesuatu yang terpisah, antara alam dan kehidupan manusia."

Kehilangan hutan pun tidak hanya dibaca sebagai berkurangnya jumlah pohon. Ketika hutan berubah, akses pangan ikut berubah, ikan dan hewan buruan menghilang, perjalanan terganggu, dan praktik budaya menghadapi tekanan.

Satu kalimat dari film itu menempel lama di ingatan banyak orang. Kalimat itu muncul lagi saat sebuah kelompok mempresentasikan gambarnya.

"Orang Punan tidak bisa dipindahkan. Sama seperti ikan yang ada di sungai, dia tidak akan bisa tinggal di laut."

Kelompok lain menggambar wajah sedih, bendera Merah Putih, rumah, dan sekolah dalam satu bidang. Ketika mempresentasikannya, seorang peserta berkata singkat, "Muka-muka WNI. Tidak punya kampung." Kalimat itu menyimpan ketegangan: sebuah masyarakat diakui sebagai bagian dari Indonesia, sementara hubungannya dengan wilayah tersebut tetap menghadapi tekanan.

Bertanya balik kepada pembuat film

Setelah semua kelompok memaparkan gambarnya, arah percakapan berbalik. Kalau tadinya penonton yang menyerap film, kini giliran mereka untuk bertemu tim produksi dan mengajukan pertanyaan yang lebih tajam. Sesi ini disebut Saling-Silang.


Foto

Rhino bercerita, materi mentah film awalnya berdurasi berjam-jam sebelum dipadatkan menjadi 25 menit. Setiap pilihan adegan berarti ada cerita lain yang tidak masuk. Dari sini, percakapan bergerak ke pertanyaan yang tidak nyaman tetapi perlu. Siapa yang menentukan cerita? Gambar mana yang boleh terlihat? Apa yang kembali kepada masyarakat setelah kamera pulang?

Pertanyaan itu tidak berhenti pada film. Ia juga menyentuh cara kita meneliti, memberitakan, dan mendokumentasikan kehidupan orang lain.

Satu lembar untuk dibawa pulang

Kegiatan ditutup dengan pembuatan zine. Setelah menonton, menggambar, dan berdebat dalam kelompok, tiap peserta kembali sendiri ke satu lembar kertas. Tugasnya cuma satu: memilih satu hal yang paling ingin disimpan, lalu menuangkannya lewat kata, gambar, warna, atau pertanyaan.


Foto

Dari 24 lembar yang lahir hari itu, ada yang menulis pendek, "Hutan kita jaga, jaga kita." Ada yang menulis dari sudut pandang orang Punan, "Kami ingin hidup, bukan bertahan hidup." Dan ada satu yang justru membalik pertanyaan yang biasa kita lontarkan.

"Saya bingung orang bertanya bagaimana masa depan Punan. Kenapa harus ditanya? Bukankah justru Punan yang harus bertanya?"


Foto

Pelajaran yang kami bawa

Climate Creative Lab #2 meninggalkan sejumlah pelajaran yang akan kami gunakan pada kegiatan berikutnya.

Urutan metode menentukan siapa yang berwenang menafsirkan. Karena peserta menggambar lebih dulu sebelum sutradara menjelaskan, pembacaan mereka tumbuh tanpa didikte. Body mapping terbukti berfungsi tidak hanya sebagai kegiatan kreatif penutup, tetapi juga sebagai alat untuk membaca film. Ruang ini akan kami pertahankan: beri peserta kesempatan membaca lebih dulu, baru hadirkan konteks dari narasumber.

Body map mempertemukan dua cara melihat wilayah.

Wilayah sebagai ruang hidup

Wilayah sebagai ruang ekonomi

Rumah

Investasi

Pangan

Infrastruktur

Sungai dan air

Energi

Masyarakat dan komunitas

Industri

Pengetahuan

Produksi

Sejarah dan ingatan

Ekstraksi

Adat dan rasa memiliki

Nilai ekonomi wilayah

Tubuh sanggup menghubungkan pengalaman personal dengan persoalan yang jauh lebih besar. Dari rasa di perut, peserta sampai pada soal tentang pangan. Dari kaki, mereka sampai pada tahap relokasi dan pembangunan. Alur inilah, dari sensasi ke ingatan, lalu ke hubungan, posisi, dan konteks, yang akan kami jadikan panduan fasilitasi ke depan.

Body map dan zine menghasilkan pengetahuan yang berbeda dan saling melengkapi. Body map menampung banyak suara dalam satu peta bersama, sementara zine menyaring satu jejak yang paling dekat secara personal. Keduanya akan kami jaga sebagai satu paket, bukan salah satunya saja.


Foto

Tema seperti kerja perempuan, keragaman pengalaman antarkelompok Punan, agama, praktik pangan, perubahan teknologi, serta kompleksitas pendidikan lebih sedikit muncul dalam zine.

Perbedaan tersebut tidak menunjukkan bahwa satu medium lebih lengkap atau lebih berhasil. Setiap medium menghasilkan bentuk respons yang berbeda.

Body Mapping

Zine Personal

Dibuat bersama

Dibuat secara individual

Menampung banyak tema

Memilih satu jejak

Membuka percakapan

Memberi ruang untuk diam dan mengolah

Mempertemukan pengalaman antar peserta

Mengolah kedekatan personal

Menyimpan perbedaan

Memperlihatkan intensitas emosional

Menjadi peta bersama

Menjadi fragmen arsip personal

Satu pelajaran menuntut kehati-hatian paling besar. Empati yang tumbuh selama kegiatan bisa mendekatkan, tetapi juga bisa membuat orang keliru merasa berhak berbicara mewakili orang lain. Semua gambar dan kalimat di ruang itu lahir dari penonton, bukan dari masyarakat Punan. Karena itu, karya bersuara imajinatif selalu kami beri konteks yang jelas, dan setiap karya kami kelola dengan izin peserta. Keadilan iklim juga berarti menghormati otoritas masyarakat atas ceritanya sendiri.

Di luar semua catatan itu, ada satu hal yang membesarkan hati. Sebuah pemutaran film sederhana ternyata bisa tumbuh menjadi ruang belajar bersama. Krisis iklim, yang biasa kita dengar sebagai angka hektare dan ton emisi, kembali menjadi hal yang manusiawi: rasa lapar, ingatan, dan harapan. Ketika orang diberi ruang untuk merasa lebih dulu sebelum menilai, mereka menangkap jauh lebih banyak daripada yang kita duga.

Itulah yang akan terus kami kembangkan. Kami ingin membuka lebih banyak ruang bagi orang untuk mengalami krisis ini secara langsung, memahaminya, lalu memilih sendiri apa yang ingin mereka lakukan setelahnya.

"Krisis iklim sering kali terasa abstrak, bahkan elitis, bagi mereka yang tidak mengalami atau tidak peka terhadap ketimpangan dampaknya. Karena itu, Climate Creative Lab dihadirkan sebagai ruang bagi teman-teman peserta untuk mendekat pada realitas krisis iklim melalui pemutaran film Negosiasi Punan, yang kemudian dilanjutkan dengan sesi body mapping bersama Civic Toolkit untuk merefleksikan pengalaman dan pesan yang tertinggal dari film tersebut. Melalui rangkaian ini, kami ingin membuka ruang bagi kita semua untuk mendengar, berefleksi, dan memahami ketimpangan dampak krisis iklim, tanpa bermaksud menggantikan pengalaman hidup masyarakat yang mengalaminya secara langsung." tutur Lia Amellya, Program Officer Green Development Madani Berkelanjutan

Foto



Related to read