MADANI Berkelanjutan mencoba untuk memadukan karya seni lintas disiplin melalui karya musik berjudul "Suara Tanah Kita". Karya ini bukan sekadar rilisan lagu biasa, melainkan sebuah eksperimen seni budaya yang menjembatani pengetahuan tradisi leluhur dengan realitas modern.
Perpaduan Unik: Tradisi, Modernitas, dan Musik Koplo
"Suara Tanah Kita" mempertemukan musik kontemporer, sastra lisan masyarakat adat, dan narasi kelestarian lingkungan dalam satu lanskap suara yang reflektif. Uniknya, untuk menjangkau audiens yang lebih luas terutama generasi muda dan masyarakat umum, aransemen lagu ini menyisipkan sentuhan musik koplo.
Pendekatan budaya populer ini membuktikan bahwa pesan mendalam tentang krisis iklim tidak harus selalu disampaikan secara formal atau berat. Elemen koplo menjadi simbol bahwa kepedulian terhadap bumi dapat dirayakan, dirasakan, dan menyatu dalam dinamika kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia tanpa mengikis kedalaman pesannya.
Tiga Sosok Kunci di Balik Kolaborasi
Keindahan dan kekuatan narasi dalam "Suara Tanah Kita" tidak lepas dari peran tiga kolaborator utama yang membawa latar belakang berbeda namun memiliki visi yang sama:
Asteriska Widiantini (Musisi & Vokalis Barasuara)
Sebagai penggagas sekaligus penyanyi utama, Asteriska yang juga mendalami sound healing dan kesadaran diri, berhasil menerjemahkan jeritan hati dan pesan-pesan masyarakat adat ke dalam bahasa musik kontemporer yang manis, relevan, dan mudah dicerna oleh publik luas.Ine Martha Haran (Penutur Sastra Lisan Dayak Kayan & Tokoh Adat)
Sebagai seorang Penelimaa (penjaga sastra lisan Telimaa) dari Dayak Kayan Mendalam, Kapuas Hulu, Ine Martha menghadirkan keluhuran nilai lokal. Pengalamannya membawakan budaya adat di panggung internasional (seperti Holland Festival) memberi warna spiritual yang kuat tentang bagaimana masyarakat adat telah lama hidup selaras dengan alam.Dominikus Uyub (Budayawan & Aktivis Masyarakat Adat)
Penulis buku Melemba Menjaga Dunia asal Kapuas Hulu ini memperkaya karya ini dengan kedalaman konteks. Bagi Dominikus, menjaga hutan bukan sekadar aksi lingkungan, melainkan upaya mempertahankan identitas budaya dan keberlangsungan hidup manusia.
Mengubah Kecemasan Menjadi Aksi Nyata
Melalui lirik dan musikalitasnya, "Suara Tanah Kita" menyuarakan kembali hubungan mendasar antara manusia dengan tanah, hutan, dan air. Karya ini berupaya memanggil kembali ingatan kolektif kita akan kearifan lokal yang kerap terlupakan di tengah modernisasi.
Lebih dari itu, karya ini hadir untuk mengubah climate anxiety (kecemasan akan krisis iklim) menjadi sebuah harapan, energi positif, dan gerakan bersama. Melalui seni, MADANI Berkelanjutan ingin membuka ruang dialog yang inklusif agar siapapun dapat mengambil peran dalam merawat bumi rumah kita bersama.



