
Dokumen Indonesia:
Diversifikasi Bahan Baku—Perspektif Alternatif tentang Strategi Bahan Bakar Nabati (BBN) Indonesia
Biodiesel memainkan peran strategis, menyumbang 35% dari bauran energi terbarukan nasional pada tahun 2020, dengan target mencapai 18 juta kiloliter pada tahun 2030. Namun, ketergantungan yang besar pada minyak sawit membuat industri bahan bakar nabati ini rapuh, suboptimal, dan mengabaikan bahan baku potensial lainnya.
Produksi CPO terus meningkat, mencapai 45,12 juta ton pada tahun 2021, sementara konsumsi domestik berada di angka 15,4 juta ton. Industri bahan bakar nabati sejauh ini berfungsi terutama sebagai penyerap kelebihan stok CPO (dengan proyeksi surplus sebesar 5 juta ton antara tahun 2021-2024), alih-alih diposisikan sebagai prioritas dalam skenario transisi energi.
Oleh karena itu, diversifikasi bahan baku bahan bakar nabati sangat mendesak untuk dilakukan, mengingat persaingan penggunaan minyak sawit dan besarnya potensi alternatif non-sawit. Pilihan seperti minyak jelantah, jarak pagar, dan nyamplung memiliki potensi kapasitas produksi sekitar 8,6-23,4 juta kiloliter. Mekanisme insentif yang tepat sangat diperlukan untuk mendukung transisi ini.



