PUBLIKASI

Wawasan Berbasis Bukti
untuk Aksi Iklim.

Access research reports, policy briefs, and data-driven resources that support transparent, fair, and sustainable climate decision-making in Indonesia.

Access research reports, policy briefs, and data-driven resources that support transparent, fair, and sustainable climate decision-making in Indonesia.

a man standing in front of a large amount of books

Dokumen Indonesia:

Penulis

Membaca Hutan, Membaca Masa Depan: Catatan tentang TFFF dan Hutan Indonesia

Pendanaan iklim adalah wacana yang hampir selalu muncul di meja perundingan UNFCCC. Implikasinya jelas: baik upaya adaptasi maupun mitigasi membutuhkan sumber daya pendanaan yang signifikan. Faktanya, menurut perhitungan UNEP (Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa), kebutuhan pembiayaan untuk adaptasi di negara-negara berkembang diperkirakan mencapai USD 215 miliar hingga USD 387 miliar per tahun hingga tahun 2030. Angka ini menunjukkan bahwa beban biaya untuk adaptasi telah melampaui kapasitas pendanaan internasional yang ada, di mana kesenjangan pembiayaan saat ini 10 hingga 18 kali lebih besar daripada aliran dana publik yang ada saat ini.

Dalam konteks FOLU (hutan dan penggunaan lahan lainnya), Brasil, sebagai negara dengan hutan hujan tropis terbesar, memprakarsai Tropical Forest Forever Facility (TFFF). Ini adalah skema pendanaan internasional yang dirancang untuk memberikan insentif jangka panjang bagi negara-negara berhutan tropis yang mampu mempertahankan tutupan hutan alamnya.

Cara kerjanya cukup sederhana: negara-negara tropis yang mempertahankan tutupan hutan alamnya diberikan insentif finansial. Landasan dari insentif ini bukan hanya tentang karbon, tetapi juga memperhitungkan keberadaan hutan sebagai bagian dari ekosistem yang harus dilindungi. Indonesia menyambut baik inisiatif ini. Dalam kunjungan kenegaraan Presiden Brasil Lula da Silva pada 23 Oktober 2025, inisiatif ini menjadi salah satu topik pembahasan. Presiden Prabowo kemudian menyatakan dukungan terhadap inisiatif ini dan berkomitmen untuk memberikan pendanaan hingga USD 1 miliar. Komitmen ini cukup mengejutkan banyak pihak, karena Indonesia seharusnya tidak perlu 'patungan' dalam inisiatif ini, melainkan Indonesia yang seharusnya menerima insentif finansial tersebut.

Namun terlepas dari keterkejutan tersebut, skema ini hadir di saat yang sangat penting bagi Indonesia. Data terbaru menunjukkan bahwa Indonesia masih memiliki sekitar 90 juta hektar hutan alam. Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan cerminan dari pilihan kebijakan yang akan menentukan arah pengelolaan sumber daya alam di masa depan. TFFF dapat menjadi pilihan pendanaan konservasi yang menjanjikan bagi Indonesia, asalkan dirancang untuk benar-benar menempatkan perlindungan hutan sebagai tujuan utama, bukan sekadar instrumen finansial.