Di tengah krisis iklim yang kian memburuk, secercah harapan muncul dari tempat yang jarang disorot yaitu desa yang hidup berdampingan dengan hutan. Di Desa Lampo, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, hutan bukan hanya lanskap alam, tetapi juga menjadi ruang hidup bersama yang menopang ekonomi, budaya, dan keberlanjutan lingkungan.
Dari ruang hidup inilah, perempuan desa mengambil peran penting sebagai penjaga hutan sekaligus penggerak ekonomi lokal. Kisah mereka mencerminkan semangat Kartini masa kini, perempuan yang tidak hanya memperjuangkan kesetaraan, tetapi juga keberlanjutan lingkungan.

Perempuan Desa dan Hutan: Dari Ruang Terbatas ke Peran Strategis
Perjalanan perempuan untuk mencapai peran strategis tidak selalu berjalan mulus. Di pedesaan, norma sosial dan budaya patriarki masih membatasi keterlibatan perempuan dalam ruang publik. Di beberapa wilayah, partisipasi perempuan dalam forum formal desa masih terbatas, terkadang hanya sebatas hadir tanpa terlibat aktif dalam pengambilan keputusan.
Keterbatasan ini diperparah oleh rendahnya literasi gender dan adanya pembatasan sosial, seperti keterbatasan mobilitas perempuan pada malam hari. Padahal banyak forum dan diskusi desa dilakukan setelah beraktivitas seharian. Meski demikian, perubahan mulai terlihat. Melalui pendekatan inklusif seperti pemetaan sosial, peningkatan kapasitas, serta pelibatan perempuan dalam kelompok-kelompok strategis, ruang partisipasi perlahan terbuka. Perempuan mulai terlibat dalam Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS), Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) hingga forum diskusi desa.

Data tahun 2022–2025, keterlibatan perempuan dalam kegiatan Program Kampung Iklim (ProKlim) yang terintegrasi dengan Perhutanan Sosial di Desa Lampo, Kabupaten Donggala mencapai rata-rata 36,6%. Bahkan dalam kegiatan tertentu seperti lokakarya bisnis, partisipasi perempuan bisa mencapai lebih dari 65%. Angka ini mungkin belum ideal, tetapi cukup untuk menunjukkan bahwa perubahan sedang berlangsung.

Ekonomi Berkelanjutan yang Tumbuh dari Alam
Di Desa Lampo, perempuan tidak hanya terlibat dalam diskusi, tetapi juga menjadi aktor utama dalam pengembangan ekonomi berbasis hutan. Salah satu contohnya adalah pengolahan bawang dayak menjadi teh herbal.

Dari 40 kg umbi bawang dayak, perempuan Desa Lampo berhasil mengolahnya menjadi 80 kotak teh bawang dayak. Dengan harga Rp25.000 per kotak, usaha ini berhasil memberi keuntungan sekitar Rp1.000.000. Tak hanya dipasarkan di sekitar desa, teh bawang dayak telah menjangkau berbagai wilayah di Sulawesi seperti Kota Palu, bahkan hingga ke Jakarta. Sebagian hasil penjualan disimpan sebagai kas kelompok dan sisanya ikut membantu menambah penghasilan serta mendukung ekonomi keluarga. Pengembangan mata pencaharian ini tidak hanya meningkatkan pendapatan rumah tangga, tetapi juga memperkuat ekonomi lokal dan mendorong diversifikasi sumber penghidupan. Lebih dari itu, keterlibatan perempuan dalam aktivitas ekonomi turut meningkatkan rasa percaya diri dan mendorong mereka untuk lebih aktif dalam pengambilan keputusan.


Pentingnya Pendanaan Iklim
Kisah perempuan dari Desa Lampo menunjukkan bahwa solusi krisis iklim sebenarnya sudah ada dan sering kali datang dari masyarakat lokal. Namun, upaya ini tidak dapat berjalan sendiri. Di sinilah pentingnya pendanaan iklim. Mengatasi krisis iklim bukan hanya soal aksi individu, tetapi juga tentang bagaimana aliran dana dan investasi diarahkan. Pendanaan iklim yang adil dapat mendukung perlindungan hutan dan ekosistem, memperkuat peran dan membuka akses bagi Masyarakat Adat dan lokal, serta memastikan kebijakan berbasis keadilan sosial dan lingkungan.
Our Power, Our Planet: Saatnya Beraksi Bersama
Momentum Hari Kartini 21 April dan Hari Bumi 22 April mengingatkan kita bahwa perubahan membutuhkan kolaborasi. Perempuan desa telah membuktikan bahwa mereka adalah bagian dari solusi untuk menjaga hutan, menguatkan ekonomi, dan merawat kehidupan. Kini, tantangannya adalah bagaimana memperluas dukungan terhadap mereka. Oleh karena itu, kita semua memiliki peran dalam mendukung kebijakan yang inklusif dan berbasis gender, mendorong ekonomi berkelanjutan, dan memperkuat suara perempuan dalam pengambilan keputusan karena pada akhirnya, masa depan bumi tidak hanya ditentukan oleh satu pihak.



