Suara dari Akar Rumput: Aksi Para Perempuan untuk Keadilan Iklim yang Inklusif

Suara dari Akar Rumput: Aksi Para Perempuan untuk Keadilan Iklim yang Inklusif

Simak kisah inspiratif Wahyu Majiah & Wardah Bagis di Earth Storyteller Fellowship 3.0. Suarakan keadilan iklim inklusif dari akar rumput untuk perempuan dan penyandang disabilitas!

Simak kisah inspiratif Wahyu Majiah & Wardah Bagis di Earth Storyteller Fellowship 3.0. Suarakan keadilan iklim inklusif dari akar rumput untuk perempuan dan penyandang disabilitas!

No headings found on page

Perubahan iklim bukan sekadar deretan angka suhu di atas kertas atau perdebatan teknis di ruang konferensi. Di lapangan, krisis iklim adalah cerita nyata tentang rumah yang terendam air, mata air yang mengering, hilangnya keanekaragaman hayati, dan sumber penghidupan yang direnggut.

Untuk menyuarakan realitas itu, Yayasan Madani Berkelanjutan berkolaborasi dengan Sebumi dan The Asia Foundation IN-CLIMATE menyelenggarakan Earth Storyteller Fellowship 3.0: "Voices of the Ground: Community, Climate, and Our Shared Future". Program bertema "Her Roots & Her Voice for Climate Justice" ini dirancang untuk memperkuat suara perempuan dan komunitas yang selama ini kurang terwakili dalam percakapan publik tentang lingkungan dan perubahan iklim.

Alasannya jelas. Dampak perubahan iklim tidak merata. Komunitas akar rumput yang kontribusinya terhadap krisis sangat kecil justru sering menanggung dampak yang jauh lebih besar terhadap ruang hidup, kesehatan, ketahanan pangan, dan mata pencaharian. Padahal perempuan dan komunitas lokal memiliki pengalaman yang penting untuk memahami tantangan lingkungan dan membangun solusinya. Sayangnya, cerita mereka belum mendapat ruang yang layak. Di sinilah storytelling menjadi jembatan antara pengalaman lokal dan percakapan publik yang lebih luas.

Dari ratusan pendaftar yang berasal dari 38 provinsi, panitia memilih 16 perempuan muda untuk dibekali kemampuan bercerita dari wilayahnya masing-masing. Dua di antaranya membawa narasi mendalam dari daerahnya, yaitu Wahyu Majiah dari Aceh dan Wardah Bagis dari Nusa Tenggara Barat (NTB).

Cerita dari Tepian Hutan Leuser

Wahyu Majiah, yang akrab disapa Ayu, lahir di Aceh Selatan dan kini tinggal di Banda Aceh. Ia bekerja sebagai jurnalis, fotografer, dan videografer, menulis untuk media lokal, sekaligus menjadi kontributor media nasional.

Ketertarikannya pada isu lingkungan sudah tumbuh sejak kuliah di tahun 2019. Ia besar di daerah penyangga Ekosistem Leuser dan menyaksikan langsung perambahan hutan serta bencana alam yang silih berganti. Dari situ ia menyadari bahwa perempuan menanggung beban terberat. Ia mengingat bencana di Aceh pada 2025, ketika perempuan tetap harus menjalankan peran sebagai ibu sambil berjuang mencari air bersih dan menjaga keluarga bertahan di tengah keterbatasan.

Ayu tidak mau diam. Ia rutin turun ke lapangan menyuarakan kelompok rentan, khususnya para ibu janda yang hidupnya paling terimbas perubahan iklim. Ia juga mengajari kelompok perempuan setempat merangkai cerita lewat fotografi, dengan harapan kondisi mereka bisa dilihat dunia luar dan memicu perubahan.

Di program ini, Ayu mengawal cerita dari sebuah daerah terpencil di pedalaman Aceh yang sedang menghadapi ancaman masuknya kembali izin pertambangan. Ia berharap cerita itu tidak hanya didengar masyarakat Aceh, tetapi juga audiens yang lebih luas, sehingga mendorong kebijakan baru dan izin tambang tersebut tidak lagi beroperasi. Ia juga ingin menyerap ilmu dari para narasumberfasilitator untuk menghasilkan karya jurnalistik terbaik, agar suara dari pelosok Aceh terdengar sampai ke ibu kota. Baginya, cerita itu adalah cara agar warga yang selama ini jauh dari sorotan akhirnya didengar.

Ketika Setara Belum Tentu Berkeadilan

Dari Kota Mataram, Wardah Bagis membawa perspektif yang jarang dibicarakan, yaitu disabilitas. Ia tergabung di Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI), ASEAN Youth Disability Network, dan Komunitas Spina Bifida Indonesia (KSBI). Ia juga menempuh studi ilmu hukum di Universitas 45 Mataram untuk memahami regulasi pemerintah dan memperkuat advokasinya.

Bagi Wardah, krisis iklim sangat lekat dengan kehidupan penyandang disabilitas, karena "setara" belum tentu berarti adil. Penyandang disabilitas nyaris tidak pernah dilibatkan dalam pengambilan keputusan terkait iklim. Ia mencontohkan kampanye transisi energi yang mendorong penggunaan transportasi umum tanpa memikirkan apakah transportasinya aksesibel, terutama di daerah seperti Mataram. 

Hal serupa terjadi di pengungsian saat bencana. Pemerintah berfokus pada distribusi bahan pokok, tetapi luput memikirkan fasilitas dasar seperti toilet yang bisa diakses. Menurutnya, ini terus berulang karena kelompok disabilitas kerap diposisikan sebagai penerima manfaat pasif, bukan pihak yang ikut menentukan nasibnya.

Dari kegelisahan itu, Wardah bergerak. Bersama ASEAN Youth Disability Network, ia menyusun modul pembelajaran krisis iklim berbahasa sederhana untuk teman-teman autisme. Modul ini rencananya diluncurkan pada konferensi di Manila, Filipina, bulan Desember. Pada 28 Agustus 2023, ia juga turun ke jalan di Jakarta bersama Aliansi Rakyat untuk Keadilan Iklim (ARUKI) dan sempat bertemu anggota DPR RI Rieke Diah Pitaloka untuk mendesak pengesahan RUU Keadilan Iklim. Bagi Wardah, kehadiran penyandang disabilitas di jalan dan di meja diskusi adalah bagian dari perjuangan yang sama.

Ia mengikuti fellowship ini untuk membawa perspektif disabilitas ke percakapan iklim yang lebih luas. Karena Madani dan Sebumi bukan organisasi disabilitas, ia melihatnya sebagai kesempatan mengedukasi publik bahwa adaptasi, mitigasi, dan ketahanan iklim berkaitan erat dengan keselamatan penyandang disabilitas.

Dari Bercerita Menjadi Karya

Wardah merasa dirinya tidak terlalu pandai bercerita. Karena itu ia berharap bisa menyusun narasi yang kuat dan tepat sasaran sepulang dari program ini. Ia juga punya rencana besar untuk Mataram. Berbekal latar belakang seni rupa dan dukungan para dosennya, ia ingin menggelar pameran mixed media tentang isu iklim dan hak disabilitas. Karyanya tidak dilukis di atas kanvas biasa, tetapi di atas bahan bekas seperti kain perca, plastik, dan kardus, sebagai cara berbeda untuk menyampaikan keresahannya.

Bekal dari Narasumber

Selama program, peserta juga dibekali para pakar. Nadia Hadad dari Madani Berkelanjutan menegaskan bahwa perempuan tidak boleh lagi hanya diposisikan sebagai objek atau korban krisis iklim, melainkan menjadi pemimpin dan garda terdepan penyelamat bumi. Senjata utamanya adalah daya bertutur, karena cerita yang disampaikan dari hati bisa mewariskan masa depan yang lebih baik bagi generasi mendatang.

Ahmad Arif, lewat materi Critical and Systemic Thinking, mengajak peserta melihat krisis iklim sebagai masalah sistemik yang berakar pada rusaknya tata kelola, bukan sekadar cuaca, dan mengungkapnya lewat jurnalisme naratif berbasis data. Shahnaz Soehartono, dalam sesi Finding Your Voice and Your "Why", menekankan empati, kejujuran, dan keberanian menemukan suara autentik. Anggalia Putri, dalam sesi Climate Justice & Gender Equality, menyoroti bahwa krisis iklim juga krisis ketimpangan gender dan sosial, dengan beban ganda yang dialami perempuan di akar rumput.

Perjalanan Wahyu dan Wardah menunjukkan bahwa krisis iklim punya banyak wajah. Ada ibu-ibu di pedalaman Aceh yang mempertahankan ruang hidup dari ekspansi tambang, dan teman-teman disabilitas di NTB yang menuntut hak dasar di tengah bencana iklim. Dengan membekali perempuan akar rumput kemampuan bercerita, kita tidak hanya merekam jejak ekologi, tetapi juga merajut masa depan yang lebih adil, berdaya tahan, dan inklusif bagi semua. Sebab perubahan sering dimulai dari hal sederhana: ada yang bersedia bercerita, dan ada yang bersedia mendengarkan. (***)

Related to read