Madani

Tentang Kami

Restorasi Gambut dan Pencegahan Karhutla dalam FOLU Net Sink 2030

Restorasi Gambut dan Pencegahan Karhutla dalam FOLU Net Sink 2030
Selain berkomitmen untuk mengendalikan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) sebagaimana tertuang di dalam Nationally Determined Contribution Republik Indonesia dan Long-Term Strategy for Low Carbon and Climate Resilience (LTS-LCCR) 2050, Indonesia juga menetapkan ambisi carbon net sink pada tahun 2030 khusus sektor hutan dan lahan.
Foresty and other land uses (FOLU) net sink merupakan keadaan ketika jumlah karbon yang diserap oleh sektor hutan dan lahan sama atau lebih besar dari emisi yang dihasilkannya. Target ini sangat ambisius bagi Indonesia mengingat sektor hutan dan lahan masih menyumbang 40% dari total emisi GRK.
Pelajari bagaimana restorasi gambut dan pencegahan karhutla berperan dalam FOLU Net Sink 2030 di bawah ini.

Related Article

Perjalanan Panjang BBN di Indonesia

Perjalanan Panjang BBN di Indonesia

Bahan Bakar Nabati (BBN) adalah bahan bakar yang berasal dari tumbuhan, hewan, dan limbah perkebunan dan peternakan selain fosil. BBN dapat berbentuk padat, cair, atau gas.

Pelajari sejarah Bahan Bakar Nabati selengkapnya di sini.

Related Article

Getting to Know Biofuels in Indonesia

Mengenal Bahan Bakar Nabati di Indonesia

Mengenal Bahan Bakar Nabati di Indonesia

Bahan Bakar Nabati (BBN) adalah bahan bakar yang berasal dari tumbuhan, hewan, dan limbah perkebunan dan peternakan selain fosil. BBN dapat berbentuk padat, cair, atau gas.

Pelajari selengkapnya apa itu Bahan Bakar Nabati (BBN) di bawah ini.

Related Article

‘Hutan Kita Sultan’ Jadi Pesan Utama Dalam Perayaan Hari Hutan Indonesia 7 Agustus Tahun Ini

‘Hutan Kita Sultan’ Jadi Pesan Utama Dalam Perayaan Hari Hutan Indonesia 7 Agustus Tahun Ini

Jakarta, 4 Agustus 2022. Indonesia adalah negara yang memiliki luas hutan hujan tropis peringkat ketiga di dunia, yang tersebar dari Sumatera hingga Papua. Pada tahun ini Konsorsium Hari Hutan Indonesia kembali menggaungkan kampanye Hari Hutan Indonesia yang dilaksanakan tanggal 7 Agustus setiap tahunnya. Pada momentum kali ini ‘Hutan Kita Sultan’ jadi tema utama, yang harapannya menjadi pemantik bagi khalayak luas lebih peduli dan sadar akan upaya pelestarian hutan Indonesia, serta mendorong Hari Hutan Indonesia diresmikan oleh Pemerintah Indonesia.

Miftachur Ben Robani, Koordinator Konsorsium Hari Hutan Indonesia 2022 menyebutkan, “Hutan kita kaya, tempat beragam flora fauna. Letak Indonesia di daerah tropis dengan curah hujan yang tinggi, sehingga memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi. Selain itu, hutan kita juga menjadi sumber pangan dan obat-obatan, sumber air, sumber udara bersih serta menjadi tempat tinggal dan akar budaya berbagai suku bangsa dan masyarakat adat di Indonesia, hingga menjadi penyerap karbon. Hutan kita kaya, memberikan beragam manfaat yang selama ini kita nikmati, baik yang berada di dalam hutan, di sekitar hutan, hingga masyarakat yang letaknya jauh dari hutan. Untuk itu, pelestarian hutan Indonesia harus terus dilakukan oleh kita semua.”

“Hari Hutan Indonesia juga merupakan momen refleksi tentang sejauh mana kita sudah berhasil melindungi hutan-hutan kita. Berdasarkan data KLHK yang diolah Yayasan Madani Berkelanjutan, Hutan Alam Indonesia menyusut 4 juta ha dari 2011 sampai 2019. Namun, pembukaan hutan dari tahun ke tahun tampak terus menurun. Hal ini kita perlu rayakan dan awasi agar tren penurunan perubahan tutupan hutan terus berlanjut sehingga target iklim Indonesia dalam Nationally Determined Contribution (NDC) dan Kebijakan FOLU Net Sink 2030 bisa tercapai,” terang Direktur Eksekutif Yayasan Madani Berkelanjutan, Nadia Hadad.

Maria Dwianto, Direktur Komunikasi PT Rimba Makmur Utama turut menambahkan, “Kami mendukung penuh perayaan Hari Hutan Indonesia sebagai upaya untuk membangun kepedulian dan rasa cinta anak muda, khususnya kaum urban, terhadap hutan di Indonesia. Sangat penting bagi kita untuk membangun kesadaran anak muda tentang pentingnya pelestarian hutan Indonesia, karena merekalah yang kelak akan menjadi pengambil keputusan di negara kita. Restorasi dan konservasi hutan Indonesia merupakan agenda penting untuk memerangi perubahan iklim.”

“Hari ini membuat hutan dibicarakan oleh banyak orang dan organisasi, bukan karena kebakaran, kerusakan, atau konflik di hutan, melainkan karena ribuan kelompok dan jutaan orang aktif berkampanye kreatif dan beraksi kolaboratif minimal sehari dalam setahun di Hari Hutan Indonesia 7 Agustus ini. Tujuannya untuk membuat isu hutan jadi inklusif sehingga lebih banyak lagi penjaga hutan, walau juga tinggal jauh dari hutan,” kata Christian Natalie, Manajer Program Hutan itu Indonesia.

Dukungan perayaan Hari Hutan Indonesia juga datang dari kelompok urban, terutama dari para penggemar K-Pop di Indonesia. Nurul Sarifah, juru kampanye KPOP4PLANET menerangkan “Penggemar K-Pop datang dari generasi Z dan Millennial, di mana dampak krisis iklim yang semakin memburuk, termasuk deforestasi, mengancam masa depan kami. Penggemar K-Pop sendiri telah melakukan berbagai upaya dalam pelestarian hutan seperti adopsi hewan terlindungi, penanaman pohon, adopsi pohon, hingga penandatanganan petisi perlindungan hutan di Papua. Solidaritas penggemar K-Pop dalam perlindungan dan pelestarian hutan merupakan bentuk aksi iklim kami dalam mencegah krisis iklim semakin memburuk.”

“Hari Hutan Indonesia, 7 Agustus memperingatkan kita sebagai Manusia untuk menjaga ekosistem hutan dan lahan bagi kehidupan manusia di planet ini. Kita semua tahu, kontribusi hutan tropis Tanah Papua terhadap kehidupan yang sangat berarti bagi manusia dan biodiversity. Komitmen pemerintah untuk menjaga hutan dan biodiversitas tanah Papua akan membantu menyelamatkan flora dan fauna endemik serta menghormati hak-hak masyarakat hukum adat menjadi solusi. Bagi masyarakat hukum adat di Tanah Papua, hutan sebagai Mama bagi mereka, karena semua sumber penghidupan ada didalam ekosistem hutan, mulai dari kebutuhan obat-obatan tradisional, flora dan fauna, ritual adat dan masih banyak lagi. Kita berkomitmen menjaga wilayah adat (hutan dan lahan), wilayah adat menjaga kehidupan kita manusia,” Yanuarius Anouw, Direktur Bentara Papua.

Hari Hutan Indonesia merupakan inisiatif Konsorsium Hari Hutan Indonesia, sebuah forum kolaborasi yang terdiri dari 27 anggota dari lintas organisasi yang memiliki kesadaran dan misi yang sama untuk berkomitmen penuh dalam upaya pelestarian hutan Indonesia. Hutan Kita Sultan menjadi pesan utama kampanye Hari Hutan Indonesia dengan tujuannya mengajak seluruh elemen masyarakat untuk turut serta mengkampanyekan bahwa Hutan Indonesia kaya akan keragaman hayati, budaya, potensi, nilai ekonomis. Karena jika tidak ada hutan, tidak ada kehidupan.

Pada perayaan Hari Hutan Indonesia tahun lalu konsorsium Hari Hutan Indonesia berhasil mewadahi 96 kolaborator lintas organisasi, 792 sukarelawan digital, dan diikuti oleh lebih dari 49.879 partisipan dari 42 acara, mulai dari pameran hari hutan, webinar, kompetisi, virtual series, dan konser.

Peringatan Hari Hutan Indonesia tahun ini akan dipusatkan di Hutan Kota Kemayoran-Jakarta, dan akan dimeriahkan dengan acara musik yang menghadirkan Feby Putri dan musisi lainnya untuk bernyanyi bersama melalui lagu tentang hutan dan lagu populer. Dilanjutkan dengan menonton film pendek yang berjudul Segala dalam Diam, yang berkisah tentang perjalanan anak muda di hutan Katingan, Kalimantan Tengah. Acara ini selain dilaksanakan di Hutan Kota Kemayoran-Jakarta, juga disiarkan secara daring melalui akun Instagram @harihutan_id.

Selain itu, terdapat jamuan ala hutan dan pameran perjalanan Hari Hutan Indonesia dari tahun ke tahun. Jamuan ala hutan akan menghadirkan kuliner-kuliner lokal dengan sebagian olahan dari hasil hutan bukan kayu (HHBK).

*Kontak Media : Sdri. Luluk Uliyah – 0815-1986-8887 atau melalui email harihutan.id@gmail.com

Catatan untuk editor:
Tentang Konsorsium Hari Hutan Indonesia

Konsorsium Hari Hutan Indonesia (HHI) merupakan kolaborasi lintas organisasi dengan membawa pesan penting terkait kampanye Hari Hutan Indonesia ke ruang lingkup lebih luas dan berkelanjutan. Konsorsium HHI merupakan bagian dari tindak lanjut perayaan Hari Hutan Indonesia yang untuk pertama kalinya dilaksanakan pada tanggal 7 Agustus 2020. Tujuan Konsorsium HHI adalah untuk membuka jaringan dan potensi kolaborasi yang berdampak strategis dengan organisasi yang mempunyai visi misi yang sama, dan juga memiliki komitmen penuh untuk menjadi penggerak pelestarian hutan Indonesia. Melalui konsorsium HHI diharapkan muncul aksi konkrit yang berdampak langsung baik terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah maupun dampak bagi masyarakat. Saat ini, ada 27 organisasi dari bidang lingkungan dan non-lingkungan yang bergabung menjadi anggota Konsorsium Hari Hutan Indonesia. Untuk informasi lebih lanjut mengenai Hari Hutan Indonesia dapat mengakses laman website www.harihutan.id

Related Article

What is the Relationship of FOLU Net Sink 2030 with NDC and LTS-LCCR?

What is the Relationship of FOLU Net Sink 2030 with NDC and LTS-LCCR?

In addition to being committed to controlling Greenhouse Gas (GHG) emissions as stated in the Nationally Determined Contribution of the Republic of Indonesia and the Long-Term Strategy for Low Carbon and Climate Resilience (LTS-LCCR) 2050, Indonesia has also set a carbon net sink ambition by 2030 specifically for the forest sector. and land.

Forestry and other land uses (FOLU) net sink is a condition when the amount of carbon absorbed by the forest and land sector is equal to or greater than the emissions it produces. This target is very ambitious for Indonesia considering that the forest and land sector still accounts for 40% of total GHG emissions.

Learn more below.

Related Article

Apa Hubungan FOLU Net Sink 2030 dengan NDC dan LTS-LCCR?

Apa Hubungan FOLU Net Sink 2030 dengan NDC dan LTS-LCCR?

Selain berkomitmen untuk mengendalikan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) sebagaimana tertuang di dalam Nationally Determined Contribution Republik Indonesia dan Long-Term Strategy for Low Carbon and Climate Resilience (LTS-LCCR) 2050, Indonesia juga menetapkan ambisi carbon net sink pada tahun 2030 khusus sektor hutan dan lahan. 

Foresty and other land uses (FOLU) net sink merupakan keadaan ketika jumlah karbon yang diserap oleh sektor hutan dan lahan sama atau lebih besar dari emisi yang dihasilkannya. Target ini sangat ambisius bagi Indonesia mengingat sektor hutan dan lahan masih menyumbang 40% dari total emisi GRK.

Pelajari selengkapnya di bawah ini.

Related Article

How to Prevent Forest Clearing in FOLU Net Sink 2030?

How to Prevent Forest Clearing in FOLU Net Sink 2030?

In addition to being committed to controlling Greenhouse Gas (GHG) emissions as stated in the Nationally Determined Contribution of the Republic of Indonesia and the Long-Term Strategy for Low Carbon and Climate Resilience (LTS-LCCR) 2050, Indonesia has also set a carbon net sink ambition by 2030 specifically for the forest sector. and land.

Foresty and other land uses (FOLU) net sink is a situation when the amount of carbon absorbed by the forest and land sector is equal to or greater than the emissions it produces. This target is very ambitious for Indonesia considering that the forest and land sector still accounts for 40% of total GHG emissions.

Learn how forest clearance prevention plays a role in FOLU Net Sink 2030 below.

Related Article

Bagaimana Pencegahan Pembukaan Hutan dalam FOLU Net Sink 2030?

Bagaimana Pencegahan Pembukaan Hutan dalam FOLU Net Sink 2030?

Selain berkomitmen untuk mengendalikan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) sebagaimana tertuang di dalam Nationally Determined Contribution Republik Indonesia dan Long-Term Strategy for Low Carbon and Climate Resilience (LTS-LCCR) 2050, Indonesia juga menetapkan ambisi carbon net sink pada tahun 2030 khusus sektor hutan dan lahan. 

Foresty and other land uses (FOLU) net sink merupakan keadaan ketika jumlah karbon yang diserap oleh sektor hutan dan lahan sama atau lebih besar dari emisi yang dihasilkannya. Target ini sangat ambisius bagi Indonesia mengingat sektor hutan dan lahan masih menyumbang 40% dari total emisi GRK.

Pelajari bagaimana pencegahan pembukaan hutan berperan dalam FOLU Net Sink 2030 di bawah ini.

Related Article

Diskusi Publik Pengelolaan Hutan Lestari Berbasis Masyarakat dalam FOLU Net Sink 2030

Diskusi Publik Pengelolaan Hutan Lestari Berbasis Masyarakat dalam FOLU Net Sink 2030

Forestry and other Land Uses (Kehutanan dan penggunaan lahan lain/FOLU) Net Sink merupakan keadaan ketika sektor hutan dan lahan menyerap lebih banyak karbon daripada yang dilepaskannya ke atmosfer. Saat ini, alih-alih menjadi penyerap emisi karbon, sektor hutan dan lahan di Indonesia justru menyumbang lebih dari 40% keseluruhan emisi karbon Indonesia.  Sehingga, aspirasi pemerintah untuk mewujudkan FOLU Net Sink pada tahun 2030 perlu diapresiasi.

Bagaimana FOLU Net Sink dalam pengelolaan hutan berbasis masyarakat? Apakah program Perhutanan Sosial dapat mendukung? Lantas bagaimana dengan masyarakat adat dan komunitas lokal?

Menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, Forest Digest bekerja sama dengan Yayasan Madani Berkelanjutan menyelenggarakan Seri III Diskusi Publik Menjaga Hutan, Menjaga Indonesia: Pengelolaan Hutan Lestari Berbasis Masyarakat dalam Rencana FOLU Net Sink 2030, dilaksanakan pada:

📆 Rabu, 13 Juli 2022
⏰ Jam 13.00 – 16.00 WIB
📌 Zoom Meeting

Related Article

id_IDID